Kaya Itu bukan Bukti Cinta Allah pada Kita

Photo Credit: Iain Browne via Compfight cc

Photo Credit: Iain Browne via Compfight cc

Semoga kita bukan termasuk orang tertipu dengan kekayaan. Banyak yang mengira orang yang kaya itu berarti mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari Allah. Tidak hanya sekarang, di jaman Nabi Muhammad saw pun ada sahabat yang tertipu kekayaan.

Suatu ketika, ada seseorang berjalan melewati Nabi saw. Beliau bertanya kepada orang yang berada di sisinya. “Bagaimanakah pendapatmu tentang orang ini?”

Yang ditanya kemudian menjawab, “Ini adalah lelaki dari golongan bangsawan. Demi Allah, bila ia melamar wanita, maka ia akan dinikahkan. Bila ia memintakan pertolongan untuk orang lain, pasti akan dibantu”.

Selanjutnya ada lagi seorang lelaki lain yang berjalan melewati Nabi saw. Beliau kembali bertanya. “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang ini?’

Yang ditanya menjawab, “Ya Rasulullah, orang ini adalah muslim yang fakir. Bila ia melamar seseorang, pasti akan ditolak. Bila ia memintakan pertolongan untuk orang lain, tidak akan dikabulkan.”

Rasulullah saw kemudian bersabda, “Yang ini – yang kau hina karena fakir – adalah lebih baik dari seisi bumi dibandingkan yang seperti ini – yang dimuliakan karena kekayaannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Orang berpikir bahwa orang yang kaya pastilah orang yang baik. Apa bukti dari kebaikan itu? Tentu saja dari kekayaannya. Bagaimana mungkin seseorang itu menjadi kaya kalau dia tidak dimuliakan Allah dengan kekayaannya?

Pandangan seperti inilah yang membuat orang mudah tertipu kekayaan. Padahal kebaikan seseorang itu tidak dilihat dari kekayaannya.

Kalau orang yang baik itu ditandai dengan harta yang dimiliki, maka sebagian besar muslimin Mekkah di masa Nabi bukanlah orang yang baik. Karena memang sebagian besar dari mereka adalah fakir dan miskin.

Dan sadarkah kita, bahwa yang berpandangan banyaknya harta itu tanda kebaikan adalah para kafir Quraisy.

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?”” (QS. Al An’aam: 53)

Orang kafir Quraisy berpandangan tidak mungkin Allah memberikan kebaikan kepada orang yang miskin. Bila yang diberikan kepada orang miskin itu kebaikan, pastilah para pembesar dan orang kaya yang terlebih dahulu mendapatkannya.

Kesimpulannya, para kafir Quraisy menganggap bahwa hidayah yang diberikan kepada orang miskin itu bukanlah sebuah kebaikan tapi sebuah keburukan.

Tapi sudah sejak dari dulu memang demikianlah kondisi pengikut para Nabi dan Rasul Allah. Sebagian besar pengikut mereka adalah orang-orang miskin dan tertindas.

Hal ini juga tercatat dalam tafsir Ibnu Katsir bahwa suatu ketika Raja Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan tentang siapakah pengikut Muhammad? Apakah orang kaya dan bangsawan atau orang-orang yang lemah dan miskin?

Ketika Abu Sufyan menjawab bahwa yang menjadi pengikut Muhammad saw sebagian besarnya adalah orang-orang lemah dan miskin, Heraklius menyatakan, “Memang seperti itulah, kondisi pengikut semua Rasul”.

Sebaliknya, bukankah sudah berulang kali Allah menunjukkan bahwa yang sering mendapatkan adzab adalah orang-orang yang kaya, bangsawan dan dimuliakan.

“Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap di pandang mata.” (QS. Maryam: 19)

Maka jangan gampang tertipu. Kekayaan itu bukan tanda kebaikan dan kemuliaan. Kekayaan itu bukan tanda bahwa Allah melimpahkan kasih dan sayang kepada pemiliknya.

Kekayaan sebagaimana anak-anak dan hal lain yang kita miliki di dunia adalah ujian dari Allah. Mampukah kita lulus dalam ujian ini atau tidak?

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al Anfaal: 28)

Maka jangan menganggap kekayaan dan apapun yang kita miliki sebagai tanda kebaikan. Termasuk bagusnya pakaian yang kita pakai, mewahnya kendaraan yang kita naiki, megahnya rumah yang kita tinggali, semua itu bukan tanda bahwa kita ini orang baik yang disayangi Allah. Semua itu hanya ujian.

Dan kebaikan yang sejati adalah hidayah dari Allah swt. Dan dari-Nya saja pahala dan balasan kebaikan yang besar akan kita dapatkan.

Semoga Allah melindungi kita dari kesombongan. Kaya itu hanya ujian, bukan tanda baiknya kita dalam pandangan Allah.

Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s