Perbanyaklah Menuntun Bukan Menuntut

16Pertengahan Ramadhan 2011 silam saya berkesempatan mengisi seminar Golden Family di Surabaya. Seperti biasa, kebanyakan peserta adalah pasangan suami-istri.

Ada sepasang suami-istri yang usia mereka memasuki 60 tahun. Mereka memiliki 11 anak dan semuanya telah berkeluarga dan hidup sebagai sepasang keluarga yang bahagia.

Suami-istri itu menceritakan panjang lebar perjalanan keluarganya, susah dan senang, semuanya menjadi terasa membahagiakan karena balutan cinta dan kasih sayangnya untuk keluarga.

Saya pun dibuat penasaran. Lalu saya bertanya, “Bagaimana cara bapak-ibu mendidik sebelas anak tersebut?”. Beliau berdua mengatakan,”Kami berdua selalu membimbing anak-anak tersebut, memberinya prinsip dasar kehidupan yang membawa keberkahanNya. Kami berdua selalu menuntun bukan menuntut”.

Sahabat yang berbahagia, bagaimana caranya kita bisa menjadi “orang-tua penuntun-pembimbing”?

Setiap orangtua memiliki tugas utama sebagai penuntun-pembimbing anaknya, bukan sebagai pengawas atau penuntut. Seorang penuntun-pembimbing, selalu mendahulukan rasa cinta dan ingin tahu perkembangan orang yang dibimbingnya. Ia tetap memegang teguh rasa cinta, memaafkan dengan tulus dan selalu memberi yang terbaik.

Lain halnya bila kita menjadi pengawas, benak kita selalu mendahulukan “kesalahan apa” yang sedang di lakukan oleh yang diawasi. Seorang pengawas akan cenderung menuntut sesuai standar yang ia yakini dan mengedepankan hukuman bila yang diawasi melakukan kesalahan.

Saya kira anda pasti mengenal mengenal Michael Jordan, sang legenda hidup bola basket. Hingga kini, Michael Jordan telah mengoleksi enam cincin juara dan lima kali terpilih sebagai pemain terbaik bola basket dunia.

Hebat benar Michael Jordan ini. Tapi tahukah kita apa yang menjadi rahasia dari prestasinya yang hebat itu? Ternyata yang menjadikan dia hebat adalah karena ia ditangani oleh seorang yang hebat juga. Dialah sang pelatih bertangan dingin, berhati pembimbing, Phil Jackson.

Phil Jackson sendiri adalah pelatih yang sangat luar biasa. Betapa tidak? Ia telah mengoleksi sepuluh cincin juara sebagai pelatih. Selain membuat Michael Jordan Juara, Phil juga melambungkan nama-nama besar seperti Kobe Bryant dan Shaq O’Neal.

Dalam sebuah wawancara, Michael Jordan mengakui bahwa ia banyak belajar dari Jackson. Dan Jackson-lah salah satu faktor suksesnya. Demikian juga O’Neal, ia mengatakan,”Setiap Phil memberi instruksi, kami perhatikan baik-baik. Karena kami yakin instruksinya itu untuk kebaikan kami.”

Lalu, apa rahasia menjadi pelatih hebat? Rahasianya ternyata, dengan menjadi orang yang tidak memaksakan kehendak. Ia selalu mengedepankan bimbingan pada anak latihnya. Ia tak membebani mereka untuk menjadi juara. Namun ia selalu menginspirasi untuk bisa menjadi juara. Phil tidak pernah memarahi anak latihnya saat gagal. Ia senantiasa menuntun bukan menuntut.

Selaras dengan yang dilakukan oleh Phil Jackson, untuk menjadi penuntun-pembimbing, orang tua harus senantiasa dalam posisi bertanya “APA” yaitu Amati, Pertanyaan dan Apresiasi.

  1. Amati: Amati ekspresi emosi, tekanan suara dan perilaku anak. Kenali emosi anak yang baik maupun yang jelek. Bila anak sedang bermain atau mengerjakan sesuatu, perhatikan kecenderungan kreatifitasnya (kreatif atau pasif). Perhatikan dengan sungguh-sungguh sifat-sifat dominannya.
  2. Pertanyaan : Berikan pertanyaan “golden question” yang berhubungan dengan perasaannya saat beraktifitas. Tanyakan dengan suara yang berintonasi rendah (bukan keras atau marah) dengan tatapan mata yang lembut. Kemudian ketika ia menceritakan apa yang sedang ia lakukan, kita (orangtua) cukup mendengar saja. Tatap mata mereka dengan kasih sayang dan anggukkan dagu kita (pelan-pelan) setiap 3 menit. Dengan cara ini anak merasa dihargai karena orang tua menjadi pendengar setia.
  3. Apresiasi : penghargaan yang positif sangat bermanfaat untuk anak. Apresiasi Positif tidak harus mahal. Apresiasi bisa diberikan dalam bentuk perhatian (seperti mendengarkan anak), ungkapan seperti “lukisan anak ibu memang indah sekali” dan kontak fisik seperti ciuman, pelukan dan usapan.

Bukan hanya Phil Jackson yang bisa menjadi pelatih hebat, para orang tua pun bisa menjadi “pelatih” yang hebat. Ia menjadi pelatih pikiran dan emosi anak-anaknya agar memiliki pikiran dan emosi yang konstruktif, bukan dekstruktif.

Orang tua yang penuntun-pembimbing adalah orang tua yang memahami potensi yang dimiliki anaknya untuk menjadi hebat. Bukan malah menjadi pemaksa terhadap apa-apa yang menjadi kemauannya. Yuk perbanyak menuntun dan membimbing anak , bukan menuntut kepada mereka.

Lalu, bagaimana dengan sabahatku para orangtua?

Twitter        :@amirzuhdi

Facebook   : http://www.facebook.com/dr.amir.zuhdi

Email            : dr.amir_zuhdi@yahoo.com

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s