Sekian Kali Bertemu Ramadhan, Bertambahkah Taqwa Kita?

6Betapa banyak Ramadhan berlalu dalam hidup kita. Tapi bagaimanakah kondisi keimanan kita tiap tahun? Apakah ia meningkat, tetap atau bahkan turun? Padahal tujuan puasa Ramadhan adalah agar kita bertaqwa.

Sahabatku yang dirahmati Allah, saat kita anak-anak, Ramadhan bagi sebagian besar kita adalah bulan yang spesial. Bulan itu adalah bulan kegembiraan. Gembira karena banyak kesenangan yang kita dapatkan.

Kita mungkin masih ingat permainan petasan dan hidangan buka puasa yang menggiurkan. Tidak jarang, bersama teman-teman sebaya kita selalu bermain untuk menghilangkan lapar menjelang berbuka puasa.

Saat itu yang kita pahami ialah bahwa puasa adalah menahan lapar dan haus. Orang yang berpuasa tidak boleh makan di siang hari selama bulan Ramadhan. Maka saat anak-anak kita mengalihkan rasa lapar dan haus ini dengan berbagai macam permainan.

Ketika menginjak baligh, kita merasakan syahwat kepada lawan jenis. Saat itu pula puasa mengajarkan kepada kita untuk menahan syahwat ini. Kualitas puasa kita kemudian tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan hawa nafsu kita.

Semakin bertambah usia, masalahpun semakin bertambah. Amarah bagi sebagian orang menjadi jalan keluar ketika mendapati masalah yang makin bertambah. Tapi puasa juga mengajarkan agar kita tidak mudah terpancing amarah.

Ketika sudah menikah dan berkutat dengan masalah nafkah kita kemudian dihadapkan dengan halal dan haramnya harta yang kita peroleh. Hal itu juga sebenarnya juga diajarkan di puasa Ramadhan.

Sahabatku yang dirahmati Allah, saat usia manusia semakin bertambah, demikian juga permasalahan dalam hidupnya. Memang demikianlah sunnatullah nya kehidupan dunia. Tidak ada yang hidup tanpa menemui masalah.

Tapi sebenarnya tiap tahun Allah mengajarkan kepada kita taqwa melalui puasa Ramadhan bahkan semenjak kita kecil.

Ketika masih anak-anak, sangat jarang kita membatalkan puasa di siang hari. Meskipun saat itu tidak ada orang yang melihat. Tapi seolah-olah kita dengan alami tahu bahwa meskipun manusia tidak melihat, Allah Maha Melihat.

Semakin dewasa, semakin banyak pengetahuan yang kita dapatkan soal puasa. Ternyata tidak hanya menahan lapar dan dahaga, puasa juga berfungsi agar syahwat kita terjaga. Selain itu kita juga tahu bahwa ketika berpuasa kita juga harus mengendalikan amarah, menghindari perkataan yang kotor.

Menahan lapar dan dahaga sendiri sebenarnya memberikan pelajaran tentang apa yang boleh dan tidak dimasukkan dalam mulut. Puasa mengajarkan halal dan haram. Meskipun tidak ada orang yang tahu, kita tidak pernah memasukkan makanan atau minuman dalam mulut ketika berpuasa.

Bukankah demikian juga seharusnya ketika kita mencari nafkah? Bisa jadi ayah, ibu, istri, anak bahkan orang lain tidak tahu apakah harta yang kita dapatkan ini halal atau haram. Tapi sebagaimana pelajaran puasa kita di masa anak-anak, Allah Maha Melihat.

Sahabatku yang dirahmati Allah, pelajaran terpenting dalam puasa adalah masalah keikhlasan. Ketika berpuasa, tidak ada orang tahu apakah kita sedang berpuasa atau tidak. Jangankan orang lain, keluarga dan teman pun tidak tahu. Yang tahu hanya kita dan Allah.

Bagaimana dengan ibadah lainnya? Shalat, zakat, haji, semua itu tentu saja butuh keikhlasan. Ternyata latihan keikhlasan itu dilatih saat puasa Ramadhan. Ketika tidak ada orang yang melihat gerakan sholat dan bacaan Quran kita, sudah semestinya kita sadar bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Waktu zakat dan sedekah kita tunaikan tanpa ada balasan yang kita dapatkan dari yang menerima, kita sudah seharusnya memahami bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mendengar dan akan membalas kebaikan meski tidak ada orang yang mengetahuinya.

Saat melaksanakan ibadah haji dilihat oleh banyak orang, kita sangat berhati-hati. Kita berdoa semoga tidak terbersit dalam hati kita ingin mendapatkan julukan “Pak Haji” atau “Bu Haji”. Karena kita sadar bahwa keikhlasan itu dilihat Allah dalam hati kita. Dan keikhlasan itu menjadi patokan ibadah yang diterima selain ketepatan pelaksanaannya.

Bertambah usia, bertambah pula masalah manusia. Tapi bertambah umur, bertambah pula pengetahuan yang diperolehnya. Sungguh beruntung mereka yang mendapati usianya semakin bertambah, semakin bertambah keimanannya.

Semoga Allah memberikan kita hidayah untuk tetap dalam petunjuk Nya. Wallahu a’lam.

Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Insaan: 29-30)

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s