Antara Piala Dunia atau Ramadhan? Tentu Saja Piala Dunia yang Dipilih

sumber gambar : www.flickr.com

sumber gambar : www.flickr.com

Memang mudah mengikuti dan menikmati sesuatu yang konkrit. Sebaliknya dibutuhkan usaha lebih untuk menyenangi sesuatu yang abstrak, ghaib. Itulah alasan mengapa banyak yang memilih pertandingan piala dunia dibanding keutamaan Ramadhan. Tapi beruntunglah mereka yang beriman kepada yang ghaib.

Sebuah buku mengatakan bahwa agar mudah diingat, sesuatu harus berada dalam bentuk konkrit, atau nyata. Dalam bahasa aslinya, concrete juga diartikan beton, atau berarti nyatanya senyata beton yang keras.

Semakin konkrit sebuah konsep, semakin mudah ia dipahami oleh orang. Semakin nyata sebuah konsep, semakin menarik ia bagi banyak orang. Dan begitu juga sebaliknya.

Jadi ketika ada yang membandingkan antara pertandingan piala dunia dan Ramadhan, maka yang lebih konkrit adalah piala dunia. Keutamaan Ramadhan itu abstrak atau dalam bahasa Islam disebut dengan ghaib.

Sesuatu yang ghaib memang ada, tapi tidak bisa diindera oleh panca indera manusia. Dan oleh sebab itu meskipun ia adalah sesuatu yang memang benar-benar ada, tapi yang ghaib sulit dijadikan sebagai sesuatu yang “nyata”.

Kesehatan itu nyata, rezeki itu nyata, usia itu nyata, tapi ia tidak konkrit. Bentuknya tidak bisa dipegang sebagaimana kerasnya saat kita memegang beton. Maka sudah sangat lumrah bila sebagian besar manusia akan memilih pertandingan piala dunia dibandingkan merasakan keutamaan Ramadhan.

Tapi sesungguhnya meyakini akan hal yang ghaib inilah yang akan membuat derajat kita melebihi derajat sahabat-sahabat Rasulullah saw.

Dari Abu Jumu’ah, Suatu ketika kami sedang makan siang bersama Rasulullah saw. Abu Ubaidah yang berada di antar kami kemudian bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, adakah manusia yang lebih baik daripada kami. Kami memeluk Islam dan berjihad bersamamu?”

Rasulullah menjawab, “Ada, mereka adalah yang datang setelahmu, yang beriman kepadaku meski mereka tidak berjumpa denganku. “ (HR. Ahmad) Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s