Ternyata, Kita Bisa Memiliki ‘Rumah’ di Surga!

Ternyata kita bisa memiliki rumah di surgaSaat ini, kebutuhan rumah atau tempat tinggal merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Rumah merupakan tempat berlindung dari panas, hujan maupun terpaan angin bahkan dari ancaman kejahatan yang tidak diinginkan.

Rumah juga tempat membina keluarga. Tempat pertama bagi pendidikan anak-anak. Bahkan lebih dari itu rumah juga merupakan lambang status sosial seseorang. Lokasi dan kemegahan sebuah rumah menunjukan kemakmuran penghuninya.

Karena begitu besarnya kebutuhan manusia akan rumah, apalagi lokasi tanah yang semakin sempit, maka semakin mahal harga rumah. Semakin sulit manusia memiliki rumah. Tanah persawahan, perkebunan banyak yang diubah menjadi perumahan.

Ini pun tidak bisa memenuhi kebutuhan manusia terhadap rumah. Akhirnya bermunculan cara kepemilikan dengan kredit. Dari mulai cicilan belasan tahun sampai harus mengangsur hingga dua puluh tahun lebih.

Begitu banyak manusia berusaha dan bersusah payah untuk membangun dan memiliki rumah di dunia ini. Dia habiskan banyak harta. Dicurahkan fikiran, waktu dan perhatian yang sangat besar sekali.

Yang uniknya adalah rumah yang dibangun dengan biaya yang besar itu beresiko rusak, bocor, hancur, roboh. Padahal si pemilik rumah mendapat rumah itu dengan susah payah. Namun rumah idaman nya rusak dan roboh ‘dimakan’ masa.

Akan tetapi, walaupun kita sulit memiliki rumah di dunia ini. Namun ternyata kita berpeluang mendapat rumah di Surga. Bahkan lebih indah dari rumah termegah di dunia sekalipun.

Rasul Saw. bersabda :

إنَّفِيالْجَنَّةِغُرَفًاتُرَىظُهُورُهَامِنْبُطُونِهَاوَبُطُونُهَامِنْظُهُورِهَافَقَامَأَعْرَابِيٌّفَقَالَلِمَنْهِيَيَارَسُولَاللَّهِقَالَلِمَنْأَطَابَالْكَلَامَوَأَطْعَمَالطَّعَامَوَأَدَامَالصِّيَامَوَصَلَّىلِلَّهِبِاللَّيْلِوَالنَّاسُنِيَامٌ

“Sesungguhnya di surga itu ada kamar-kamar yang dapat dilihat luarnya dari dalamnya, dan dalamnya dari luarnya.” Maka seorang Badwi berkata: “Untuk siapa itu wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Untuk orang yang baik perkataannya, memberikan makan pada orang lain, terus menerus berpuasa (puasa Daud) dan shalat di malam hari sedangkan manusia sedang tidur nyenyak.” (HR. At-Tirmizi  dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1984)

Berdasar sabda Nabi saw di atas, maka seorang hamba Allah swt berkesempatan untuk memiliki Rumah di Surga dengan melakukan beberapa amal, yaitu : bertutur kata yang baik, memberi makan kepada orang miskin dan rutin shalat malam.

Subhanalloh…ternyata jelas sekali bahwa setiap muslim berkesempatan meraih Rumah Allah swt di Surga.

Memberi makan kepada orang miskin tidak perlu uang terlalu banyak. Apa lagi berkata yang baik dan shalat tahajud, tanpa disyaratkan harta untuk bisa melakukannya.

Selain peluang meraihnya terbuka luas, Rumah di Surga tentunya sangat berbeda dengan rumah di dunia.

Dari beberapa keterangan al-Quran dan hadits didapati bahwa begitu indah dan megahnya Rumah di Surga. Bahkan melebihi gambaran dan impian manusia di dunia akan keindahan sebuah rumah.

Diriwayatkan bahwa bangunannya terbuat dari batu bata emas dan perak, adukannya beraroma kasturi. Kerikilnya terbuat dari mutiara Lu’lu’ dan Yaquut. Tanahnya terbuat dari Za’faran seperti tepung putih beraroma kasturi.

Mata air ‘Rumah’ di Surga bernama Salsabil yang akan diberikan kepada orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah swt (Muqorrobin) Sedangkan orang-orang yang berbuat baik (Abroor) maka Allah swt memberi mereka air yang diberi campuran Kaafuur (air dingin yang aroma nya wangi), zanjabil (jahe atau air hangat yang beraroma segar). (QS. Al-Insan ayat 5 dan 17)

Beberapa hari ke depan, kita akan berjumpa dengan bulan Ramadhan.

Generasi salafus shaleh adalah generasi yang mengetahui betapa berharganya bulan Ramadhan. Mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan beramal di bulan mulia ini. Bahkan diriwayatkan bahwa generasi shaleh terdahulu telah menanti kehadiran bulan Ramadhan dengan memohon kepada Allah swt 6 bulan sebelumnya.

Salah satu yang mereka tingkatkan adalah dengan memperbanyak bersedekah. Mereka mencontoh kedermawanan Nabi saw. Diriwayatkan bahwa, “adalah Nabi saw orang yang paling pemurah, dan sifat pemurah beliau yang paling besar adalah ketika Ramadhan. Dimana Jibril biasa berjumpa dengan Nabi saw di setiap malam bulan Ramadhan hingga akhir. Nabi saw membacakan padanya al-Quran. Ketika berjumpa dengan Jibril as. Nabi saw sangat dermawan seperti angin yang berhembus. “(HR. Bukhari Muslim).

Imam Syafii rahimahullah berkata: “Yang paling dicintai bagi seseorang adalah semakin bertambahnya kedermawanan nya pada bulan Ramadhan untuk meneladani Rasulullah saw”.

Sahabat Ibnu Umar ra tidak berbuka puasa melainkan bersama orang-orang miskin. Imam Ibnu Syihab rahimahullah apabila memasuki Ramadhan beliau isi bulan tersebut dengan membaca al-Quran dan memberi makan kepada orang miskin.

Ternyata, kita bisa memiliki Rumah di Surga dengan bersedekah (memberi makan) kepada orang miskin. Apalagi di bulan yang penuh berkah. Bulan pelipatgandaan pahala. Maka memiliki Rumah di Surga adalah keniscayaan.

Wallahu A’lam

 

Dr. H. Agus Setiawan, MA

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s