Hukum Bekerja di Leasing

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Pertanyaan:

Ustadz, saya seorang perempuan usia 25 tahun, saya merantau dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan. Selama beberapa bulan saya mencari, saya belum menemukan pekerjaan.

Lalu ketika saya melamar di sebuah perusahaan leasing, saya diterima. Dalam sebuah pengajian, saya baru tahu bahwa bunga atau riba itu haram. Sementara, tempat saya bekerja, penghasilan perusahaan dan termasuk yang digunakan untuk membayar gaji karyawan semua berasal dari bunga.

Saya bingung, apa yang harus saya lakukan? Saya terlanjur tanda tangan kontrak kerja selama dua tahun, sedangkan saya sendiri merasa tidak nyaman setiap menerima gaji. Tapi keluarga saya di kampung juga membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Mohon bantuan pencerahan dari Ustadz. Jazakumullah.” Hamba Allah

Jawaban:

Bismillah

Wash sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah

Saudariku yang dirahmati Allah swt…

Berkaitan dengan hukum bekerja perusahaan leasing, para ulama berpendapat bahwa bekerja pada perusahaan yang melakukan transaksi ribawi seperti bank konvensional dan perusahaan-perusahaan keuangan lainnya adalah dilarang.

Beberapa fatwa ini dapat dikemukakan oleh Syaikh bin Baz dalam Kitab Dakwah (1/142-143), juga Syaikh Muhammad bin al-Utsaimin dari fatwa-fatwa beliau yang dikumpulkan oleh Asyraf bin Abdul Maqshud (2/307). Pernyataan senada diputuskan oleh Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu dan Fatwa (15/51)

Diantara dasar pelarangan ini adalah karena bekerja di perusahaan yang menggunakan transaksi ribawi termasuk tolong menolong di atas dosa dan pelanggaran.

Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya” (QS. al-Maidah: 2).

Nabi saw juga menjelaskan :

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤَكِّلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah telah melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau mengatakan, “Mereka itu sama saja”. (Hadist riwayat Bukhari)

Dari dalil-dalil al-Quran dan hadits-hadits Nabi saw yang shorih (jelas) bahwa riba termasuk dosa besar maka tidak boleh tolong menolong bersama pelaku riba.

Meskipun demikian Dr.Yusuf Al-Qaradhawi dalam kumpulan fatwa-fatwa kontemporernya ketika membahas masalah hukum bekerja di bank konvensional beliau mengatakan; Dengan pertimbangan bahwa tidak semua bentuk transaksi pada bank konvensional itu haram, maka tidak mengapa seorang muslim menerima pekerjaan tersebut –tetapi hatinya tidak rela– dengan harapan kondisi keuangan dirinya bisa lebih baik. Juga suatu saat dirinya akan memperoleh sumber keuangan yang lebih diridhoi agama.

Pandangan Dr Yusuf al-Qaradhawi mencoba untuk lebih bijak memandang permasalahan. Memang benar bahwa riba itu haram dan ulama telah sepakat bahwa bunga bank adalah riba yang diharamkan. Ayat dan hadits tentang itu sudah cukup banyak dan semua sepakat tentang hal itu.

Namun, permasalahan yang saudariku tanyakan (juga yang diterangkan oleh Dr Qaradhawi) adalah sebuah proses menuju islamisasi diri secara kaffah atau total.

Dimana Islam tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan secara bertahap dalam memecahkan setiap permasalahan yang pelik.

Selain itu Islam juga melarang seseorang melupakan kebutuhan hidup. Dalam kondisi ini yang diistilahkan oleh para ulama dengan ‘masyaqqoh’.

Kondisi inilah yang menjadikan seseorang terpaksa untuk menerima pekerjaan tersebut sebagai sarana mencari penghidupan dan rezeki, sebagaimana firman Allah SWT: “…Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah: 173)

Namun apabila ada lowongan pekerjaan lain yang halal dan pasti, maka wajiblah baginya untuk berhenti dari pekerjaan yang terkait dengan hal yang haram.

Saat ini yang diperlukan saudariku adalah tekad dan kemauan yang kuat.

Jika kita telah ber-azzam (bertekad kuat) maka jalan pun akan terbentang luas. Allah swt pasti akan mengganti dengan pekerjaan yang jauh lebih menenangkan batin, sesuai syari’at dan berkah dari pendapatan yang halal tersebut.

Wallahu A’lam

Ustadz AgusDr. Agus Setiawan

Dewan Syariah PKPU

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s