Karakter Pemimpin Ideal, Belajar dari Raja Thalut

Presiden pertama Kenya (sumber gambar: www.flickr.com)

Presiden pertama Kenya (sumber gambar: www.flickr.com)

Sahabatku yang dirahmati Allah, suatu ketika para pemuka Yahudi protes kepada nabi mereka. Mereka tidak terima orang yang ditunjuk sebagai raja bukan dari kalangan mereka, para bangsawan.

Thalut adalah seorang prajurit biasa. Bahkan ada yang mengatakan pekerjaannya hanyalah seorang tukang angkut air. Ada juga yang mengatakan bahwa Thalut mendapatkan penghasilan dari menyamak kulit.

“Maka bagaimana mungkin orang dengan karakter seperti ini akan mampu menjadi raja bagi kaum Yahudi?” protes para pemuka kaum Yahudi.

“Tidak hanya tidak memiliki trah bangsawan, Thalut bahkan bukanlah seorang yang memiliki banyak harta. Dia bukan orang yang terbiasa memerintah, maka dengan demikian ia tidak pantas memimpin semua kaum Yahudi”. Itulah yang mungkin muncul di benak para pemuka Yahudi.

Tapi Allah memang mengkisahkan kisah Thalut ini kepada kita manusia di jaman sekarang ini bukan tanpa sebab. Ada kualitas lain yang ditentukan oleh Allah yang menentukan layak dan tidaknya seseorang menjadi pemimpin.

Anugerah Allah kepada Thalut sehingga ia memiliki kualifikasi pemimpin adalah “basthotan fil ilmi wal jismi.” Atau bila diterjemahkan berarti ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.

Ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa itu seperti apa? Ternyata dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, Thalut memiliki pengetahuan yang lebih luas, terjaga kemuliaan perbuatannya dari maksiat, lebih kuat dan lebih sabar ketika menghadapi kesulitan perang, dan dia juga memiliki pengetahuan yang banyak tentang perang.

Kekuatan di sisi ilmu, moral-spiritual, mental dan fisik inilah yang ternyata menjadikan seseorang layak menjadi pemimpin. Bukan keturunan dan kebangsawanan, atau harta yang menjadi prasyarat utama.

Allah yang menentukan Thalut sebagai pemimpin secara tidak langsung sebenarnya mengajarkan kepada kita, bahwa inilah kualifikasi pemimpin yang ideal.

Dan karena masing-masing kita adalah pemimpin, minimal bagi diri kita masing-masing, maka sudah sepantasnya kita belajar. Belajar untuk memantaskan kapasitas kekuatan ilmu, moral-spiritual, mental dan fisik kita agar sesuai dengan kapasitas pemimpin ideal yang telah ditunjukkan Allah melalui perjalanan Thalut. Wallahu A’lam

Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah: 247)

Inspirasi: Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Baqarah: 247

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s