Konsultasi: Bagaimanakah Hukum Lagu dan Musik?

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Pertanyaan :

Assalaamualaikum Ustadz, bagaimanakah hukum musik, termasuk mendengarkan, menggunakan alat musik, dan berbisnis di bidang musik?

Elis  – Surabaya

Jawaban:

Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh. Mengenai lagu dan musik ada tiga pandangan yang berbeda. Pandangan pertama, menyatakan bahwa semua lagu dan musik halal, karena termasuk hal yang baik yang dibolehkan Allah SWT.

Pandangan kedua, semua jenis lagu dan musik haram termasuk di dalamnya musik pengantar berita. Karena musik adalah seruling syetan dan kata-kata yang membuat manusia lupa (dalam bahasa Al Quran disebut lahwal hadiits), menghalangi manusia dari berdzikir dan melakukan sholat.

Dan pandangan ketiga, pada dasarnya lagu dan musik boleh (mubah), kemudian hukum selanjutnya dilihat dari efek yang ditimbulkannya, kalau efeknya haram maka hukumnya haram.

Terkait lagu dan musik ini juga ada hal-hal yang disepakati oleh para ulama. Yang pertama adalah haramnya lagu yang mengandung unsur hawa nafsu, kefasikan dan mengajak kepada maksiat. Keharamannya bertambah bila dibarengi dengan musik dan nada.

Yang kedua, diperbolehkannya lagu yang tidak mengandung hal diatas, tidak dimainkan dengan musik dan tidak membuat terlena, serta dalam situasi bergembira, dengan syarat penyanyinya bukan perempuan.

Selain dua hal yang disepakati di atas ada yang masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, yani lagu yang bersih dari hal-hal yang diharamkan, namun dimainkan dengan aransemen dan musik seperti nasyid islami dengan alat musik, nasyid dengan aransemen tertentu tanpa musik, dan nasyid yang dimainkan dengan aransemen dan diiringi dengan musik dari mulut (acapella).

Apa saja dasar-dasar atau dalil dari Al-Qur’an yang mengharamkan lagu dan musik?

Dalil Pertama, Surat Luqman ayat 6 yang artinya, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”

Kata dari lahwal hadiits yang diterjemahkan sebagai “perkataan yang tidak berguna” dimaknai sebagi lagu, sehingga lagu haram.

Pendapat lain menunjukkan bahwa yang menjadi titik tekan dari ayat ini bukan lahwal hadiits-nya tapi tujuan dari menggunakannya. Maka haram dan tidaknya ditentukan oleh tujuannya.

Dalil Kedua, Surat Al Qashash ayat 55 yang artinya, “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.”

Lagu termasuk al-laghwu yang terdapat dalam ayat tersebut (diartikan sebagai “perkataan yang tidak bermanfaat”), maka wajib untuk menghindarinya.

Pendapat lain menyampaikan bahwa yang dimaksud al-laghwu adalah cacian dan bukan lagu. Sehingga tidak secara pasti bahwa lagu adalah al-laghwu. Kalaupun lagu termasuk dalam al-laghwu, dalam ayat di atas tidak ada kata yang menunjukkan haram. Al-laghwu diharamkan selama mengakibatkan lupa melakukan kewajiban atau menelantarkan hak orang lain.

Apa saja hadits-hadits yang berkaitan dengan lagu dan musik?

Hadits pertama yang artinya, Nabi saw bersabda, “Setiap permainan yang membuat lupa seorang mukmin maka permainan tersebut bathil kecuali tiga hal; suami bercumbu dengan istrinya, melatih kuda perang, dan memanah.” (HR. Imam yang Empat, namun ada idhtirob)

Yang berpendapat lagu dan musik haram menyebutkan bahwa lagu tidak termasuk dalam hal yang dikecualikan, sehingga lagu termasuk bathil.

Pendapat lain menyatakan bahwa makna bathil dalam hadits di atas bukanlah lawan kata al-haq. Masih ada hal-hal lain yang tidak disebutkan dalam hadits ini tapi tidak bathil.

Hadits kedua yang artinya “Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, alat musik (al-ma’aazif)”

Hadits ini sering dijadikan dasar pengharaman alat musik.

Pendapat lain menyatakan dalam hadits ini ada kata yang dalam bahasa arab, yastahilluun. Kata ini dimaknai dengan menghalalkan. Tapi bila maknanya menghalalkan, kenapa pelakunya tidak disebut kafir? Malah, dalam hadits ini masih diakui sebagai umat Nabi Muhammad. Maka yang lebih tepat, yastahilluun dimaknai sebagai memakai dan bukan menghalalkan.

Hadits ketiga  yang artinya, “Kalau Umatku melakukan lima belas hal ini maka akan turun balaa’ (musibah). Salah satunya Rasulullah saw menyebutkan al-ma’azif (alat musik).

Pendapat lain menyatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah)

Kesimpulannya, ayat Qur’an dan hadtis yang digunakan sebagai dalil mengharamkan lagu ternyata tidak secara jelas dan tegas mengharamkan lagu. Ada hadits yang secara shorih/jelas mengharamkan lagu tapi haditsnya dho’if (lemah). Sehingga semua ayat dan hadits yang dipakai sebagai dasar mengharamkan lagu dan musik digugurkan.

Dan posisi hukum lagu dan musik kembali pada hukum asalnya yakni mubah.  Selama tidak menimbulkan dan disertai yang haram maka lagu mubah. Isi lagu harus sesuai dengan syariat Islam, cara membawakan lagu tidak mengundang syahwat dan membuat pelanggaran syariat.

Selain itu, catatan lain adalah tidak berlebihan. Hal yang mubah dibatasi dengan batas kewajaran. Sesuatu yang melebihi batasnya akan menimulkan hal sebaliknya dari mubah menjadi haram.

Dan catatan terakhir tidak disertai dengan hal yang haram seperti ikhtilaat, minum khomr, berpakaian seronok dan lain-lain.

Wallahu a’lam

Jazakumullah khairan

 

Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA

Biro Syariah PKPU

 

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s