Cara Tetap Berjaya Saat Tenang atau Badai Melanda, Gunakan 20 Mile March

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Roald Amundsen mungkin sebuah nama yang asing di telingamu. Seorang berkebangsaan Norwegia ini mungkin cocok sebagai contoh bagaimana cara seseorang harus tetap bertahan dan tegar di saat ujian datang dan pergi.

Roald Amundsen dikenal sebagai penjelajah. Dialah orang yang pertama mencapai kutub selatan pada Desember 1911. Pola pikir Amundsen inilah pelajaran yang berharga bila kau ingin tetap tegar saat mendapati ujian.

Dinginnya Kutub selatan tidak perlu lagi diragukan. Bahkan saat menjelajahi kutub selatan, kau juga harus bersiap menghadapi badai-badai salju yang suhunya bisa membekukan manusia.

Tapi ada sebuah pola pikir dan prinsip yang digunakan oleh Amundsen yang dianggap oleh Jim Collins dan Morten T. Hansen sebagai pola pikir dan konsep yang sesuai bagi mereka yang ingin tetap berjaya dalam usaha atau bisnisnya.

Di bukunya, Great by Choice, Jim Collins dan Morten T. Hansen menceritakan mengapa Amundsen berhasil mencapai Kutub Selatan. Prinsip ini dikenal dengan nama 20 mile march atau dalam Bahasa Indonesia berarti “maju 20 mil”.

Amundsen dalam penjelajahannya mencapai Kutub Selatan bergerak maju menuju titik tujuannya sebanyak kurang lebih  20 mil perhari. Tidak hanya ketika kondisi tenang. Ketika kondisi badai pun, ia tetap berusaha melakukannya.

Meski dalam kondisi tenang, ia bisa saja maju sejauh 25 mil, tetap saja ia memilih untuk hanya maju 20 mil saja. Alasannya? Di depan ia tidak tahu apa yang akan terjadi, maka ia tidak terlalu memaksakan dan menghabiskan tenaga.

Ia beserta kru-nya membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan tenaga. Dan untuk itu ia tetap menggunakan pola 20 mile march.

Menurut Jim Collins dan Morten T. Hansen, perilaku pebisnis sukses juga sama. Mereka tidak mudah tergoda untuk maju habis-habisan. Yang mereka lakukan adalah maju selangkah demi selangkah sebagaimana 20 mile march.

Karena seringkali ketika sebuah bisnis di saat mudah, pasarnya menguat, konsumennya membludak, ia kemudian habis-habisan, ia mudah tergoda. Dan di waktu berikutnya ia malah terjebak pada kondisi merugi.

Ia maju terlalu cepat sehingga kondisi usahanya, kondisi kepemimpinannya belum terbiasa dengan kemajuan yang pesat itu. Semua bagian dalam usahanya tidak cukup kuat untuk menopang kemajuan yang cepat.

Orang yang terbiasa menangani satu toko, harus belajar terlebih dahulu untuk menangani dua  toko sebelum ia bisa menangani lima atau bahkan sepuluh toko. Karena memang cara mengaturnya sudah berbeda.

Bagaimana denganmu Sahabat? Sudahkah kau menguatkan pola pikirmu untuk melakukan 20 mile march? Ataukah kau mudah tergoda untuk habis-habisan ketika kau mendapati usahamu merasakan kenikmatan?

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s