Entrepreneur Kerupuk Upil dari Wiyung

This slideshow requires JavaScript.

Ketika kami datang ke rumah Bu Sis dan Pak Totok, waktu sudah menunjukkan jam setengah lima sore. Aktivitas di rumah itu sudah menurun. Saat aku datang bersama Pak Maksum, penanggung jawab program KSM, Pak Totok bersiap-siap untuk membersihkan diri.

Dan kami pun bersiap untuk mendengarkan kisah hidup mereka yang kini mencoba bertahan dengan usaha kerupuk upil. Ya, kerupuk  upil. Kesannya memang jorok, tapi itulah namanya di Surabaya. Kerupuk yang digoreng bukan dengan minyak tapi dengan pasir yang dipanaskan.

Tahun 1992 adalah awal mereka merintis usaha. Sebelumnya, Pak Totok yang kini berusia 57 tahun ini bercerita bahwa ketika menginjak usia 15 tahun ia berangkat ke Surabaya, ikut saudara iparnya. Saat itu ia bekerja di sebuah perusahaan kerupuk.

“Itu lho Mas, menjadi penjual kerupuk putih yang di blek.” Ungkap Pak Totok. Selama bertahun-tahun pekerjaan itulah yang menjadi tumpuan hidup beliau semasa muda. Tapi selain menjual kerupuk putih blek, beliau juga membawa kerupuk upil usaha temannya.

Dari pertemanannya sesama pekerja kerupuk itulah kemudian dia tahu bagaimana proses pembuatan, proses pembelian bahan dan penjualan kerupuk upil.

Dan saat itu tiba. Kehadiran anak pertama membuat Pak Totok dan Bu Sis harus berpikir keras. Penghidupan yang serba pas-pasan dengan bekerja sebagai karyawan tidak lagi mencukupi. Maka mereka berdua sepakat untuk memulai usaha kerupuk upil. Dengan modal simpanan seadanya, di tahun 1992, dimulailah usaha kerupuk upil Pak Totok dan Bu Sis.

Tidak disangka, di awal tahun itu perkembangan usaha mereka sangat besar. Kerupuk upil yang didatangkan dalam bentuk mentah, tidak langsung mereka goreng. Ada perlakuan khusus yang selalu mereka berikan pada kerupuk itu.

Keuntungan yang mereka ambil tidak besar, karena mereka menambahkan bumbu bawang putih pada kerupuk upil. Sederhana, tapi tidak pernah dilakukan oleh pengusaha kerupuk upil lain. Mereka sadar, rasa bawang putih tambahan ini adalah usaha mereka memberikan manfaat lebih pada pelanggannya.

Tapi tidak disangka, petaka itu datang. Dan memang demikianlah kehidupan manusia, kadang di atas kadang di bawah. Momen krisis moneter tahun 1997/1998 mengubah kondisi usaha kerupuk upil mereka.

Bahan baku semakin mahal, gaji karyawan yang berjumlah kurang lebih 16 orang tidak mampu mereka penuhi, sementara harga kerupuk upil yang memang menjadi konsumsi masyarakat menengah ke bawah, tak mungkin dinaikkan dengan tinggi untuk menutupi biaya produksi.

Mereka berdua di tahun 1998 itu baru saja menghabiskan tabungan untuk mendirikan rumah. Jadi tidak ada modal lain yang bisa digunakan untuk membantu produksi kerupuk.

Akhirnya satu persatu, karyawan harus berhenti. Dan kini di tahun 2014, praktis tinggal Pak Totok dan Bu Sis yang mengelola dan bekerja di usaha kerupuk upil ini dibantu salah seorang anaknya.

Satu hal yang cukup menarik dan tetap dipegang sampai sekarang, mereka dalam masa-masa yang sulit ini tetap memberikan tambahan bumbu bawang putih pada kerupuk upil mereka.

Maka di saat kami datang ke rumah mereka, transaksi jual beli dalam jumlah cukup besar tetap terjadi. Kerupuk “upil” dalam wadah plastik transparan berukuran besar yang dihargai Rp 10.000 pun dibawa salah seorang pembeli.

“Mereka ini tetangga sekitar Mas. Kerupuk sebanyak itu hanya dikonsumsi sendiri, bukan untuk dijual. Para tetangga sudah hapal betul dengan kerupuk upil produksi kami yang lebih gurih dibandingkan kerupuk upil yang lain.” Ujar Pak Totok.

Dinding bata merah yang masih terlihat itu kini semakin menghitam. Asap saat menggoreng kerupuk sepertinya masih harus terus mengepul. Tanggung jawab Pak Totok dan Bu Sis masih belum selesai.

Masih ada satu anak lagi yang masih menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama. Mereka masih harus tetap mengejar penghasilan. Untuk membuat anak-anaknya meraih pendidikan tertinggi yang bisa mereka biayai.

Anak yang kedua kini telah membantu mereka. Selepas lulus dari SMK, anaknya tidak melanjutkan. Mungkin ketiadaan biaya, atau mungkin sang anak memang sadar bahwa orang tua yang sudah makin bertambah usianya butuh dukungan, bantuan fisik agar keluarga mereka tetap bertahan di kerasnya jaman dan persaingan.

Tanggung jawab sebagai orang tua, memastikan keberlangsungan keluarga tetap dijalankan oleh Pak Totok dan Bu Sis dengan usaha kerupuk “upil”. Tapi mereka juga tetap memberikan manfaat lebih kepada pelanggannya. Rasa bawang putih yang gurih tetap mereka berikan pada kerupuk yang normalnya hanya berasa asin.

Semoga kisah hidup mereka memberikan inspirasi kepadamu sahabatku. Kami memohon doa agar Pak Totok dan Bu Sis beserta penerima manfaat program yang lain tidak hanya mampu bertahan tapi bisa tumbuh dan berkembang.

Pak Totok dan Bu Sis adalah satu di antara banyak lainnya penerima manfaat dari program KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Program ekonomi PKPU Surabaya yang memberikan pinjaman modal bergulir tanpa bunga tanpa jaminan.

Mengambil model Grameen Bank yang ada di Bangladesh (tapi di KSM tanpa bunga), kami berharap program ini juga mampu meningkatkan kemampuan mereka membesarkan usaha. Wallahu a’lam

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s