Resiko Menjadi Teladan yang Baik

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Aneh dengan judul tersebut? Bagaimana mungkin menjadi teladan itu memiliki resiko? Apalagi teladan yang baik, apakah itu juga memiliki resiko? Kalau teladan yang buruk itu sih resiko.

Sahabat, semua perbuatan di dunia itu selalu ada resiko. Menjadi orang jahat itu ada resikonya, begitu juga dengan menjadi orang baik, ada resikonya. Dalam bisnis menjadi teladan atau pelopor itu ada resikonya.

Marilah kita belajar dari kasus pertama, iPhone vs Samsung Galaxy. Berhasil mengkudeta Nokia dengan smartphone yang canggih, iPhone menjadi pelopor dalam bisnis smartphone. Tapi resiko menjadi pelopor, akan ada banyak yang menirunya.

Dan apalagi yang meniru memberikan harga yang lebih murah, dan kualitasnya tidak jauh berbeda. Itulah yang dilakukan oleh Samsung. Dengan menggunakan teknologi yang hampir sama, dia bisa meniru iPhone. Dan sekarang ini kau bisa melihat sendiri hasilnya.

Kasus kedua, Whatsapp atau yang lebih dikenal dengan WA dengan Facebook Messenger. Di Indonesia mungkin tidak banyak yang mengenal Facebook Messenger, tapi sejujurnya bisnis instant messaging ini diawali oleh Facebook.

Tapi kemudian Whatsapp mencontoh. Sama dengan yang dilakukan Samsung, Whatsapp membuat sistem yang lebih baik di kalangan penggunanya. Lebih ringan, lebih sederhana dan hasilnya lebih cepat.

Kasus ketiga, antara General Motors dan produsen-produsen mobil asal Jepang. Di Amerika Serikat, General Motors adalah pelopor produsen mobil secara massal. Efisiensi kerja dari sistem yang dibuat membuat General Motors berkuasa soal memproduksi mobil.

Tapi begitu para produsen Jepang mengetahui sistem ini, mereka malah bisa membuat mobil dengan desain lebih bagus, kualitas lebih baik dan harga lebih murah. Sekali lagi resiko menjadi teladan atau pelopor.

Bukan berarti dalam bisnis menjadi pelopor tidak baik. Tentu saja menjadi pelopor adalah baik dan sangat baik. Lihat saja Proctor & Gamble dan Unilever, mereka ini adalah pelopor dalam urusan produk-produk yang kita butuhkan sehari-hari.

Keuntungan finansial, nama baik dan sederet keuntungan lainnya akan didapatkan oleh mereka para pelopor. Selain itu para pelopor akan lebih dikenal oleh para calon pelanggannya dari pada yang muncul belakangan.

Namun tetap saja, menjadi pelopor itu berisiko. Akan ada pihak yang siap mengungguli. Tapi bukankah dengan begitu akan muncul persaingan yang menguntungkan bagi pelanggan? Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s