Kuncinya Adalah Keteladanan

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Sahabatku yang dirahmati Allah, apakah yang sering membuat seorang bawahan muak terhadap atasannya? Apa pula yang membuat seorang anak jengkel dengan perilaku orang tuanya? Jawabannya adalah tidak adanya keteladanan.

Seorang atasan akan kehilangan rasa hormat dari bawahannya ketika yang disampaikan ternyata tidak dilaksanakan. Begitu juga dengan seorang anak. Akan berkurang rasa patuhnya ketika orang tua melanggar peraturan yang dibuatnya.

Rasa muak dan kesal ini manusiawi. Ini adalah sebuah fitrah manusia dari Allah yang diberikan kepada manusia. Sehingga fitrahnya manusia akan merasa jengkel pada orang yang hanya menasihati tapi tidak melaksanakan apa yang dinasihatkan.

Dan Allah memberikan petunjuk kepada manusia dengan jalan yang manusiawi. Allah mengutus Nabi dan Rasul tidak hanya dengan bekal komunikasi atau berbicara, tapi yang lebih penting adalah tindakan.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21)

Rasulullah saw adalah teladan terbaik bagi manusia. Dan cara beliau mengajak, berdakwah juga tidak hanya cukup dengan berbicara, berkhutbah, tapi semua tingkah laku beliau adalah dakwah, semua perilaku beliau menunjukkan beginilah Islam.

Maka tidak heran ketika Ummul Mu’minin, Aisyah r.a. ditanya tentang akhlaq Rasulullah. Maka dijawab bahwa sesungguhnya akhlaq Rasulullah adalah Qur’an. Subhaaanallah.

Rasulullah tidak memberitahukan kepada sahabat bahwa sedekah beliau itu seperti angin. Sahabat-sahabat beliau sendiri yang menyaksikan hal tersebut. Dan itu tidak hanya sekali dua kali tapi sepanjang hidup beliau.

Rasulullah juga tidak memberitahukan bagaimana harus membantu kepada orang yang tidak mampu meskipun dia seorang kafir. Abu Bakar r.a. yang menceritakan ketika ia ingin meniru perbuatan Rasulullah saat melayani seorang kafir yang ketika dilayani malah mencaci Rasulullah.

Rasulullah juga tidak memberitahukan bagaimana seorang pemimpin harus bersikap sederhana. Umar bin Khattab r.a. yang menceritakannya. Saat ia diminta oleh keluarganya agar menaikkan derajat makanan yang dimakanannya ia malah menangis. Karena dua orang sahabatnya terdahulu (Rasulullah dan Abu Bakar) tidak pernah makan bermewah-mewah.

Rasulullah juga tidak pernah memberitahukan bagaimana seharusnya seorang mukmin harus menyembah Allah. Para sahabat yang menceritakan bagaimana kaki Rasulullah bengkak karena lamanya beliau sholat malam.

Rasulullah tidak pernah memberitahukan bagaimana seorang suami harus membantu istrinya. Para istri beliau yang menceritakan bahwa kebiasaan Rasulullah adalah membantu pekerjaan rumah tangga, bahkan beliau menjahit baju yang robek.

Janganlah lagi ditanya tentang bagaimana kesabaran beliau. Para sahabat bahkan para musuh beliau menyaksikan sendiri kesabaran itu. Ketika Mekkah telah dikuasai, Rasulullah saw bisa saja memerintahkan untuk membalas rasa sakit yang pernah dialami saat berdakwah di Mekkah. Tapi semua itu tidak dilakukannya. Beliau malah memaafkan.

Belum lagi kebijaksanaan beliau dalam menghadapi berita-berita miring. Selepas perang Hunain, banyak harta rampasan yang diberikan kepada orang Quraisy. Muncullah desas-desus bahwa Rasulullah lebih memilih kaumnya (Quraisy).

Namun hal ini dijawab dengan indah dan penuh kebijaksanaan. “Tidakkah kalian, wahai kaum Anshar, rela mereka mendapatkan kambing dan unta sedangkan Rasulullah pulang bersama kalian?” Basahlah sudah jenggot para kaum Anshar dengan tangisan mendengar jawaban Rasulullah.

Sungguh akhlaq beliaulah yang memukau manusia. Baik dia sahabat atau musuh. Semua mengakui bahwa Rasulullah memang benar seseorang dengan akhlaq yang paling mulia.

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam: 4)

Di kesempatan yang lain, kau mungkin mengetahui ucapan-ucapan beliau tentang rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan. Di kesempatan yang lain juga ada sabda beliau tentang ampunan Allah dan kasih sayang-Nya melebihi semua kesalahan manusia.

Bahkan ada juga kalanya beliau berkisah tentang kejadian-kejadian di masa yang akan datang, seperti, keluarnya ya’juj dan ma’juj, tentang keluarnya Dajjal, tentang turunnya Nabi Isa, Imam Mahdi bahkan terjadinya Kiamat.

Tapi bagaimanakah cerita-cerita yang tidak masuk akal ini bisa diterima? Kecuali memang beliau adalah orang yang dipastikan jujur dalam ucapan dan perbuatan.

Dan para sahabat bahkan musuh beliau paham betul akan hal ini. Abu Jahal sendiri mengakuinya. Maka tidak heran ketika semua julukan hina yang dituduhkan kepada Rasulullah seperti tukang sihir dan orang gila Abu Jahal tidak keberatan.

Tapi begitu disampaikan julukan pendusta, ia malah menolaknya. Karena memang Muhammad yang ia kenal, yang mengaku sebagai nabi itu tidak pernah berdusta. Apa yang ia sampaikan dengan apa yang ia lakukan selalu sama.

Sahabatku yang diberkahi Allah, keteladanan itu senantiasa menjadi kunci utama dalam aktivitas apapun, dalam posisi atau amanah manapun, dalam situasi apapun. Orang yang memulai dari dirinya untuk menjadi teladan yang terbaik akan menuai hasil yang terbaik. Sementara bagi mereka yang hanya mengandalkan silat lidah dan retorika belaka hanya akan menemukan penyesalan sebagai hasilnya. Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s