Berhasil Itu Mampu Beradaptasi pada Perubahan

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Keberhasilan atau kesuksesan tidak sepenuhnya berasal dari faktor kerja keras semata. Ada faktor yang juga penting dalam menentukan keberhasilan atau kesuksesan yakni kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan.

Dan kegagalan atau kekalahan sebenarnya bukan berarti tidak bisa bersaing. Tapi seringkali yang menyebabkannya adalah ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Sebagaimana kau tahu, Blackberry tidak bisa bertahan karena pasar telepon pintar tidak hanya mengapresiasi pekerjaan, tapi lebih mengapresiasi hiburan yang sementara ini dikuasai pesaingnya.

Kejatuhan Nokia juga tidak jauh berbeda. Ia juga jatuh karena munculnya iPhone yang lebih atraktif dan lebih kompleks layanannya. Dan memang demikianlah fakta yang kau temui di dunia bahwa untuk bertahan kau harus tetap beradaptasi dengan perubahan.

Pada perang dunia II, kekhalifahan Turki Utsmani tidak sanggup beradaptasi dengan perubahan berupa revolusi industri di Eropa. Saat negara-negera Eropa memiliki pesawat terbang, pasukan kekhalifahan hanya bersenjatakan sisa-sisa Perang Dunia I.

Dan nyatanya Islam juga menguatkan umatnya untuk senantiasa beradaptasi. Dan Ali ra berkata, “Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan Rasul-Nya didustakan? (Shahih Bukhari no. 124)

Ketika berdakwah atau memberikan nasehat kepada yang tidak memiliki kemampuan berpikir tinggi, seorang muslim harus menggunakan bahasa yang sederhana. Karena bila tidak, maka salah pemahaman tentang Islam yang akan terjadi.

Tapi sebaliknya, ketika ia berhadapan dengan para ilmuwan dan peneliti, seorang muslim dalam memberikan nasihat tidak bisa hanya bermodalkan dalil naqli semata. Harus ada bukti-bukti ilmiah dan penelitian yang sesuai.

Bila tidak, maka akan sulit nasehat seorang muslim untuk bisa diterima. Karena memang kondisinya berubah dari tahun ke tahun. Kini manusia lebih menerima dengan bukti nyata.

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari neneknya r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Perintahlah anak-anakmu untuk menjalankan shalat di waktu mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka, jikalau melalaikan shalat di waktu mereka berumur sepuluh tahun. Juga pisahkanlah antara mereka itu dalam masing-masing tempat tidurnya.” (HR. Imam Abu Dawud)

Memisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan peremuan sebenarnya juga adalah pembelajaran adaptasi. Ketika usia bertambah, akan ada perubahan dalam sisi fisik dan psikologis yang berbeda bagi masing-masing laki-laki dan perempuan. Sebelum ilmuwan meneliti manfaat dan hikmahnya, Islam telah melaksanakannya.

Sekarang bagaimana denganmu sahabatku? Sudahkah kau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi? Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s