Bila Kau Cinta kepadaNya, Beranikah Kau Mengorbankan Dunia?

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Cinta kepada sesuatu itu menuntut pengorbanan. Apalagi cinta yang suci kepada sang ilahi, sudah pasti pengorbanannya adalah pengorbanan tingkat tinggi yang tak terbeli.

Kisah pengorbanan Ibrahim dan sang putra, Ismail, adalah kisah yang sudah pasti rutin kau terima. Tapi, di luar kisah itu, masih banyak contoh-contoh cinta dan pengorbanan lain yang ditunjukkan oleh Al Qur’an dan Hadits Rasulullah.

Demi dakwah kepada Allah, serta tetap mengabdi kepadaNya, seorang pemuda rela mengorbankan hidupnya. Rakyat yang kemudian mendapat hidayah juga rela menukar nyawa demi mendapat cinta dari Sang Penguasa Alam Semesta.

Bahkan orang yang tak dikenal dalam sejarah, tak diketahui asal usulnya, merasa terpanggil untuk membuktikan cintanya kepada Allah. Menghadapi masyarakat yang enggan ber-ilah kepada Allah, ia mengikrarkan tauhidnya. Ia pun mendapatkan surga dan cinta Allah yang melebihi dunia dan seisinya.

Di masa hidup Rasulullah, Al Qur’an juga mencatat aktivitas cinta dan pengorbanan yang tidak terpisahkan. Mereka rela mengorbankan sesuatu yang dicintai di dunia demi janji akhirat yang pasti terbukti kebenarannya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq, teman setia Rasulullah juga telah membuktikan besarnya cinta dengan memberikan seluruh harta benda yang ia miliki untuk dakwah. Dan apa yang ia tinggalkan untuk keluarga? “Cukup Allah dan RasulNya.” Jawabnya.

Tapi Al Qur’an tidak hanya mencatat cinta dan pengorbanan yang gemilang, ia juga memberikan permisalan kondisi jiwa yang cinta kepada dunia mengalahkan cinta kepada Penggenggam seluruh jiwa manusia.

Ada yang kemudian menemui ajal saat ia berperang melawan tentara muslim. Ia dicatat sebagai orang yang ingkar (na’udzubillah min dzalik) hanya karena ia tidak sanggup memenuhi panggilan pengorbanan untuk berhijrah. Terbukti bahwa memang cintanya kepada Allah tak sebesar cintanya kepada dunia.

Cinta kepada dunia ini bisa menjebak siapapun. Bahkan orang-orang yang telah menjadi sahabat utama Rasulullah juga pernah mengalaminya. Namun ia bersegera mengakui kesalahannya, bertaubat kepada Allah, menerima hukuman sambil berharap Allah akan menerima penyesalannya.

Sesungguhnya anugerah Allah kepada umat Muhammad saw adalah nikmat besar yang tak terkira. Bandingkan dengan kondisi umat-umat yang sebelumnya. Sangat jauh bandingannya.

Tapi Allah memerintahkan untuk sholat dan qurban atas nikmat yang telah Ia berikan bukan berarti Allah membutuhkan. Sebaliknya, manusia yang membutuhkan melaksanakan semua perintah sebagai bukti cintaNya kelak di Hari Perhitungan.

Manusia memang mudah mengucapkan cinta. Tapi sesungguhnya cinta itu terlihat dengan pengorbanan. Bila kau tidak berkorban, maka pantaskah kau mengatakan bahwa kau tulus mencintaiNya? Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s