Serial Kisah Cinta dan Pengorbanan (2)

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Tukang Sihir, Pendeta dan Seorang Pemuda

Ada sebuah kisah yang diceritakan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat tentang   seorang tukang sihir, pendeta, pemuda dan mereka yang dipaksa masuk dalam sebuah parit berapi.

Dahulu kala ada seorang raja yang salah seorang pembantu setianya adalah tukang sihir. Ketika sang tukang sihir semakin tua ia meminta kepada sang raja agar ada seorang pemuda yang akan ia didik dan kelak menjadi penggantinya bila ajal telah memanggil.

Maka dipilihlah seorang pemuda dari kerajaannya. Dalam perjalanan dari kerajaan menuju tempat si tukang sihir, ia menemui seorang pendeta. Pemuda ini tertarik. Ia berhenti dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh si pendeta.

Ketika ia datang terlambat menemui tukang sihir, tukang sihir itu marah dan memukulinya, “Kenapa kau terlambat?” Begitu juga ketika pulang, keluarganya marah dan memukulinya, “Apa yang menghalangimu pulang?”

Ia pun menceritakan hal itu kepada sang pendeta. Sang pendeta memberi saran, “Bila si tukang sihir hendak memukulmu, katakan bahwa keluargamu yang menghalangimu. Dan bila keluargamu hendak memukulmu, katakan bahwa tukang sihir yang menghalangimu pulang cepat.”

Rasulullah melanjutkan ceritanya. Hari-hari berlanjut hingga suatu saat ada seekor binatang buas besar yang berkeliaran yang menghalangi manusia melakukan aktivitas mereka.

Maka pemuda ini berkata, “Hari ini aku ingin tahu yang mana yang lebih dicintai Allah, apakah perkara yang diberitahukan oleh pendeta ataukah perkara yang disampaikan tukang sihir?.”

Ia pun mengambil sebuah batu dan berkata, “Ya Allah, jika perkara yang diberitahukan oleh pendeta lebih Engkau cintai dan ridhoi daripada apa yang disampaikan oleh tukang sihir, maka matikanlah binatang buas ini sehingga manusia bisa kembali beraktivitas.”

Dan ia pun melempar batu itu dan seketika, binatang itu mati. Para warga pun tidak lagi ketakutan dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Apa yang terjadi ini diceritakan si pemuda kepada pendeta. Pendeta itu kemudian berkata, “Wahai anakku sesungguhnya kini kau lebih mulia dariku. Dan sungguh kau pasti akan mendapatkan cobaan. Dan kuharap ketika engkau mendapatkan cobaan itu, janganlah kau menyampaikan perihal diriku.”

Setelah itu, hari-hari si pemuda dihabiskan dengan merawat para penderita buta sejak lahir,  kusta, serta berbagai penyakit lain. Dan setelah ditangani oleh si pemuda, penyakit-penyakit itu sembuh.

Di antara menteri raja, ada yang mengalami kebutaan. Ia mendengar berita  tentang seorang pemuda yang bisa menyembuhkan penyakit, sehingga ia pun datang menemuinya sambil membawa hadiah yang berlimpah.

Setelah bertemu, ia berkata kepada si pemuda, “Tolong sembuhkan aku, maka kau bisa mendapatkan semua hadiah ini.” Tapi pemuda itu malah menjawab, “Aku tidak mampu menyembuhkan apapun, yang menyembuhkan adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Jika kau beriman kepadaNya dan meminta kepadaNya, maka niscaya Ia akan menyembuhkanmu.”

Maka si menteri ini pun menyatakan beriman kepada Allah dan berdoa agar Allah menyembuhkan buta yang ia alami. Dan Allah pun menyembuhkannya.

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Setelah itu ia kembali bertugas menemui raja dan duduk sebagaimana ia duduk sebelum mengalami kebutaan.

Sang Raja kemudian bertanya, “Hai Menteri, siapakah yang mengembalikan penglihatanmu?” Ia menjawab, “Tuhanku.” Sang Raja heran, “Aku?” SI menteri menjelaskan, “Bukan, tapi Allah, Tuhanku dan Tuhanmu wahai Raja”.

“Apakah ada Tuhan bagimu selain aku?” Sahut Raja bingung. Sang menteri menjawab, “Iya, Dialah Allah, Tuhanku dan juga Tuhanmu.”

Sang Raja pun menyiksanya untuk keluar dari Tauhid namun sang menteri bergeming sampai akhirnya ia menyebutkan nama si pemuda yang telah menjadi jalan hidayah baginya.

Maka ketika si pemuda ini dipanggil ia pun bertanya, “Hai pemuda apakah kemampuan menyembuhkan buta dan kusta ini kau dapat dari sihir yang kau pelajari?”

Si pemuda menjawab, “Sungguh aku tidak mampu menyembuhkan satu penyakitpun, yang menyembuhkan adalah Allah ‘Azza wa Jalla.” Sang Raja heran, “Maksudmu aku?”

“Bukan, bukan dirimu wahai raja.” Jawab si pemuda. “Apakah kau punya Tuhan selain aku?” Tanya Sang Raja sekali lagi. “Allah, Dialah Tuhanku dan juga Tuhanmu.” Ujar si pemuda.

Maka sang Raja pun menyiksanya pula namun tidak berhasil membuatnya kembali ke agama asalnya sampai akhirnya si pemuda menyebutkan perihal pendeta yang ia temui. Sehingga si pendeta pun didatangkan menghadap raja.

“Kembalilah kepada agama asal nenek moyangmu!” Ancam sang Raja kepada pendeta itu. Tapi pendeta itu menolak sehingga Raja meletakkan gergaji di atas kepalanya dan membelah tubuh pendeta menjadi dua.

Sang Raja pun bertanya kepada menterinya, “Kembalilah kau pada agama asalmu!” Tapi si menteri ini menolak sehingga raja pun meletakkan gergaji di atas kepalanya dan membelah tubuhnya menjadi dua.

Kini tinggal si pemuda sendirian. Ketika diminta untuk kembali kepada agama asalnya, si pemuda menolak. Maka sang Raja memerintahkan kepada beberapa orang untuk membawanya ke sebuah puncak gunung.

Sang Raja berpesan kepada bawahannya, “Bawalah dia ke puncak gunung, bila ia bersedia kembali ke agama asalnya, bawalah ia kembali, tapi bila tidak, lemparkan ia dari puncak gunung.”

Maka ketika rombongan orang dan si pemuda sampai di puncak gunung, ia berdoa, “Ya Allah selamatkanlah aku dari orang-orang ini dengan cara yang Engkau kehendaki.”

Gunung berguncang, dan semua orang kecuali si pemuda terjatuh. Si pemuda kembali berjalan menemui sang Raja. Bertambah heranlah sang Raja.

“Apa yang terjadi dengan orang-orang yang menyertaimu?” tanya sang Raja. “Allah menyelamatkan aku dari mereka.” Jawab si pemuda.

Maka sang raja kembali memanggil beberapa orang untuk membawa pemuda ini ke tengah laut menaiki perahu. Ia berpesan kepada para bawahannya, “Lihatlah apakah dia bersedia kembali kepada agamanya, bila tidak tenggelamkan dia!”

Maka orang-orang itu membawa si pemuda ke tengah laut. Di tengah laut, si pemuda berdoa, “Ya Allah selamatkanlah aku dari orang-orang ini dengan cara yang Engkau kehendaki.” Maka selanjutnya selain si pemuda, semuanya tenggelam.

Lalu ia kembali kepada sang Raja, dan Raja kembali bertanya, “Apa yang terjadi pada orang-orang yang membawamu?” “Allah menyelamatkanku dari mereka.” Jawab si pemuda.

Si pemuda kemudian berkata kepada rajanya, “Sungguh, kau tidak akan mampu membunuhku kecuali dengan cara yang kuajarkan. Bila kau melakukannya, kau pasti bisa membunuhku.”

“Cara apakah itu?” Tanya sang Raja. “Kumpulkanlah manusia di satu tempat yang tinggi. Dan ikatlah aku di batang pohon. Setelah itu ambillah anak panahku dan katakanlah ‘Dengan nama Allah, Tuhan dari pemuda ini’, maka kau pasti bisa membunuhku.

Maka sang Raja melaksanakan semua apa yang diterangkan oleh pemuda. Dan saat ia menarik  anak panah, ia mengucapkan, “Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini”. Anak panah itu melesat dan mengenai pelipis. Si pemuda memegang lukanya dan akhirnya dia mati.

Maka seluruh manusia yang melihat kejadian itu kemudian beriman. Mereka berikrar, “Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini.”

Sang raja kemudian mendapatkan laporan bahwa apa yang dia takutkan akhirnya pun terjadi. Semua manusia beriman kepada Allah.

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Maka ia pun mengambil keputusan untuk membuat parit di depan jalan besar. Setelah dilaksanakan, api pun dinyalakan di parit itu. “Siapapun bersedia kembali ke agama asalnya akan dilepaskan, tapi bila tidak, ia akan dilemparkan ke dalam api.”

Maka manusia-manusia itu masuk ke dalam api itu, mereka menghindar dan mendorong. Kemudian ada seorang ibu yang sedang menyusui bayinya. Si ibu terlihat enggan untuk masuk ke dalam api. Maka si bayi pun berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya engkau mengikuti kebenaran.

Sungguh sebuah kisah pengorbanan mempertahankan keimanan yang menakjubkan. Wallahu a’lam.

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Buruuj

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s