Kulit Hewan Qurban tidak Boleh Dijadikan Ongkos Jagal, Lalu Diapakan?

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Qurban adalah ibadah khusus yang dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan tiga hari tasyrik setelahnya dengan menyembelih binatang dengan syarat dan tata cara yang telah diatur.

Oleh sebab itu pequrban dan juga panitia qurban harus selalu memperhatikan detil ibadah qurban agar terhindar dari aktivitas yang malah membuat qurban berkurang pahalanya atau bahkan tidak sah.

Praktik yang mungkin masih umum dijumpai di masyarakat antaranya berkaitan dengan upah jagal yang diambilkan dari kulit hewan qurban. Padahal sebenarnya hal tersebut telah dilarang oleh Rasulullah saw.

Dalam hadits Ali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkanku untuk mengurus onta-onta sembelihan (sebagai hadyu atau qurban) milik beliau, dan agar aku membagi-bagikan dagingnya, kulitnya dan bahkan “baju”-nya kepada orang-orang miskin, serta agar aku tidak memberikan sesuatupun dari bagian hewan qurban itu kepada jagal (sebagai ongkos/upah) (HR. Muttafaq ‘alaih)

Hadits ini sepertinya masih jarang dilaksanakan. Untuk membagikan kulit kepada penerima daging qurban tidak jamak dilakukan di masyarakat Indonesia. Karena selama ini para tukang jagallah yang terbiasa memanfaatkannya.

Yang harus diketahui bahwa sebagaimana hadits di atas, Ali ra bertugas sebagai panitia qurban atau sebagai wakil dari pequrban. Sehingga beliau tidak diperkenankan untuk menjual kulit kemudian uangnya dijadikan upah jagal.

Tapi bila panita adalah wakil penerima daging, maka masalah pengelolaan kulit ini bisa diatasi. Karena ketika kulit diserahterimakan, perlakuan terhadap kulit adalah hak penerima apakah dimasak, dijual atau bahkan diberikan ke orang lain, karena statusnya sudah menjadi milik penerima.

Maka alternatif pengelolaan kulit bisa dilakukan oleh panitia qurban dengan cara,

  1. Panitia mendata penerima bagian qurban. Lalu kulit hewan qurban bisa diserahkan langsung kepada penerima, sehingga untuk pengelolaanya sudah tidak lagi menjadi tanggung panitia.
  2. Setelah mendata, panitia bisa juga menyampaikan kepada penerima bagian bahwa ia akan mendapatkan kulit, dan menanyakan apakah bersedia menerima dalam bentuk kulit atau dalam bentuk uang yang nantinya akan dibantu penjualannya oleh panitia sebagai wakil penerima.
  3. Setelah mendata, panitia bisa juga langsung menjualkan kulit hewan kurban dan memberikan hasilnya kepada penerima bagian kurban.

Tapi yang harus diperhatikan, bahwa dalam alternatif ini, sebaiknya ditunjuk panitia tersendiri sebagai wakil penerima. Selain itu didefinisikan terlebih dahulu nama penerima sehingga telah dipastikan bahwa panitia juga adalah wakil penerima bukan pequrban. Wallahu a’lam.

Artikel ini diadaptasi dari www.ustadzmudzoffar.wordpress.com

One response to “Kulit Hewan Qurban tidak Boleh Dijadikan Ongkos Jagal, Lalu Diapakan?

  1. maaf
    kalau saya boleh bertaya
    “agar aku membagi-bagikan dagingnya, kulitnya dan bahkan “baju”-nya kepada orang-orang miskin”
    bukan kah disitu maksudnya keseluruhannya di bagikan
    saya pernah dengar tentang tidak bolehnya meng-uang-kan bagian apapun dari daging qurban

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s