Menyembelih itu Menyakiti Hewan Khan?

sumber gambar: flickr.com

sumber gambar: flickr.com

Menghadapi Idul Adha 1434 H yang identik dengan qurban, aku sengaja mencari beberapa panduan untuk penyembelihan. Aku pun searching beberapa artikel dan video untuk mencari tahu bagaimanakah cara penyembelihan hewan yang baik dan benar.

Ketika mendapati beberapa video penyembelihan di youtube aku kecewa. Bukan karena kualitas video dan caranya yang salah. Tapi karena komentar yang muncul sangat kasar. Seolah-olah penyembelihan hewan itu menyakiti hewan.

Memang harus kuakui, beberapa tayangan penyembelihan hewan yang tidak sesuai syariat memang mengerikan, tapi pertanyaannya, apakah penyembelihan hewan secara syar’i itu menyakiti hewan?

Pemberi komentar rata-rata kulihat dari negara barat. Metode yang mereka gunakan untuk menyembelih adalah dengan menyetrum kepala hewan untuk membuat mereka tidak sadar. Setelah itu barulah mereka mengalirkan darah hewan dari leher.

Hampir tidak ada perlawanan, atau “kejet-kejet” dalam bahasa Jawa. Dan memang perlawanan dan aksi “kejet-kejet” itulah yang membuat banyak orang mengasumsikan bahwa penyembelihan itu pasti menyakitkan.

Nyatanya perbedaan pendapat antara menyakitkan dan tidak menyakitkan ini telah terjadi lama di Jerman. Praktik penyembelihan tradisional yang dilakukan komunitas Islam dan Yahudi dipandang oleh orang Jerman kebanyakan sebagai tindakan yang tidak manusiawi.

Maka beberapa penelitian berkaitan dengan hal ini pun dilakukan oleh para peneliti di Jerman. Salah satu yang terkenal adalah penelitian yang dilakukan oleh W. Schulze, H. Schultze-Petzold, A.S. Hazem, dan R. Gross.

Penelitian ini ingin membuktikan apakah penyembelihan ritual sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas muslim memberikan rasa sakit melebihi dari metode penyetruman (bolt stunning).

Hasilnya ternyata penyembelihan syar’i yang dilakukan oleh komunitas muslim tidak memberikan rasa sakit pada hewan yang disembelih. Hal ini terlihat dari rekam EEG yang digunakan pada penelitian.

Bahkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi zero line EEG, yakni kondisi hilangnya aktivitas cerebral cortex atau dalam bahasa mudahnya hilangnya kesedaran, lebih singkat pada penyembelihan syar’i daripada menggunakan bolt stunning.

Subhaanallah, Maha Suci Allah. Sesungguhnya Allah telah menciptakan tatacara kehidupan bagi manusia dengan sempurna. Wallahu a’lam.

Untuk melengkapi tulisan ini kami sertakan ringkasan penelitiannya berikut ini: printhalalstudy.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s