Pemimpin adalah Orang yang Paling Butuh Bantuan Orang Lain

sumber gambar: flickr.com

sumber gambar: flickr.com

Tahukah kau seorang yang bernama Andrew Carnagie? Bukan, dia bukan Dale Carnagie yang ahli kepribadian dan perilaku manusia. Ia adalah seorang pengusaha Amerika Serikat yang sukses di industri besi- baja. Ia hidup antara tahun 1835 hingga 1919.

Selain pengusaha, dia juga seorang pegiat sosial di masanya. Ia bahkan melawan rencana Amerika Serikat untuk menjajah negara lain. Agaknya ini yang membuat dia menjadi orang yang eksentrik.

Orang kaya yang senang membantu orang lain dengan uangnya sendiri tapi tidak mendukung negaranya sendiri untuk menjajah negara lain. Seorang sosok yang eksentrik di masa itu.

Sebuah ungkapan yang sangat tepat tentang kepemimpinan juga ia ungkapkan, “No man will make a great leader who wants to do it all himself, or to get all the credit for doing it.”

Tidak ada seorang pun yang akan menjadi pemimpin yang hebat bila ia ingin melaksanakan semuanya sendiri, atau ingin mendapatkan semua pengakuan untuk melakukannya.

Sesempurna apapun manusia, sudah semestinya ia juga menyadari keterbatasannya. Ia hanya ditakdirkan memiliki satu kepala, dua mata, dua telinga, satu mulut, dua tangan dan dua kaki.

Untuk mampu menghadirkan nasi yang sudah siap dimakan di atas meja saja dia harus tergantung dengan banyak pihak. Ada petani yang menanam, merawat, dan memanen beras, pedagang beras, dan yang membeli serta memasak hingga menjadi nasi.

Bahkan untuk memasak nasi itu saja, dia membutuhkan produsen rice cooker, perusahaan listrik, dan produsen piring dan sendok. Semua itu tidak bisa ia lakukan seorang diri.

Namun dalam keseharian, seringkali orang lupa bahwa ia butuh orang lain. Dengan berbagai macam alasan seperti kualitas pekerjaan, waktu, dan cara bekerja yang tidak sama, banyak orang yang menolak untuk menyadari kelemahannya.

Semakin ia tidak menyadari kebutuhannya terhadap orang lain, semakin ia tersiksa. Padahal bisa jadi tugas dan tanggung jawab yang dipikulnya semakin besar dan banyak. Ia pun akhirnya kehabisan tenaga dan ngos-ngosan.

Selain membagi tugas, seorang pemimpin juga harus menghargai kinerja orang lain. Sebanyak kau menginginkan pengakuan atas kesuksesan, sebanyak itu pula keinginan orang lain diakui dan dihargai atas jasanya membantu kesuksesanmu.

Yang menarik ialah, semakin kau membagi pengakuan itu dengan orang lain, akan banyak orang yang membantumu meraih kesuksesan. Sebaliknya, semakin kau rakus dengan pengakuan kesuksesan, semakin sedikit yang akan menemanimu bersusah payah membantu kesuksesanmu. Wallahu a’lam

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s