Setelah Ramadhan Usai, Lalu Apa?

sumber gambar: flickr.com

sumber gambar: flickr.com

Kini kau berada di pertengahan Syawal. Setengah bulan berlalu dari Ramadhan mulia. Aktivitas sehari-hari telah kembali seperti sedia kala. Makan-minum dan aktivitas lain yang dikekang saat siang hari di Ramadhan kini boleh dilakukan kembali.

Lalu apa yang selanjutnya harus dilakukan setelah semua itu berlalu?

Mampukah kau menarik pelajaran penting saat Ramadhan. Mampukah kau mengendalikan nafsu selepas Ramadhan? Mampukah kau tetap rutin menjalankan sholat fardhu berjamaah sebagaimana ketika Ramadhan?

Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah masalah mampu atau tidak mampu, tapi “MAU”? Masihkah kau MAU berangkat sholat Isya saat tidak ada lagi jamaah tarawih? Masihkah kau MAU membaca Qur’an saat tak ada lagi jamaah tadarus?

Kau dan aku bisa merasakan betapa beratnya menjalankan itu semua di luar Ramadhan? Saat tidak lagi ada teman-teman dan kerabat yang mendukung. Untuk puasa Syawal saja terkadang godaannya seakan lebih besar dibanding  saat Ramadhan.

Saat Ramadhan, orang-orang tergerak untuk berpuasa, sholat berjamaah, dan membaca Quran, baik karena memang terpanggil oleh Allah atau karena malu. Tapi yang jelas kebersamaan itu membuat kita juga bersemangat. Berbeda dengan Syawal saat kewajiban itu telah gugur dan usai.

Padahal pelajaran penting puasa Ramadhan bukanlah kebersamaannya, tapi iman kepada Yang Ghaib. Bukan sahur dan buka bersama, tapi ketaatan kepada Allah saat tidak ada yang menilai dan melihat.

Bagi yang salah mengambil pelajaran, marilah segera kembali mengingat, bahwa taqwa itu berhati-hati karena kita tetap diawasi oleh yang Maha Hidup dan Maha Mengetahui.

Tujuan berpuasa itu terasa ketika lepas dari Ramadhan. Saat sanak kerabat, teman dan keluarga tidak lagi membangunkan sahur, dan mengingatkan bahwa diri ini sedang berpuasa.

Masihkah kau takut melanggar laranganNya? Masihkah kau tulus memenuhi panggilanNya? Masihkah kau bersegera melaksanakan perintahnya? Saat ini ketika tidak ada lagi orang yang mengingatkanmu. Saat yang mengingatkanmu hanya Allah ta’ala semata melaui hati nuranimu? Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s