Mengapa Shaf Mengalami Kemajuan?

sumber gambar: www.flickr.com

sumber gambar: www.flickr.com

Kemajuan sebenarnya menjadi dambaan semua orang. Pendapatan yang semakin maju berarti rezeki yang diterima dalam bentuk uang semakin banyak. Dan ini pasti membuat yang menerimanya semakin banyak senyum.

Kemajuan dalam karir juga didamba. Hal ini berarti ia memiliki jabatan yang lebih tinggi, kewenangan yang lebih besar dan ikut di dalamnya gaji yang lebih besar. Ini juga menyenangkan bagi yang mendapatkannya.

Bisnis yang semakin maju juga menjadi idaman. Ini berarti bisnisnya semakin banyak diminati oleh pelanggan. Strategi bisnisnya berarti jitu untuk mendatangkan lebih banyak konsumen. Berarti semakin banyak uang yang didapat.

Tapi shaf sholat yang semakin maju, meski tidak didamba tapi telah menjadi fakta. Di awal-awal Ramadhan, masjid dan musholla penuh sesak. Bapak-bapak, ibu-ibu, hingga remaja dan anak-anak semuanya berkumpul.

Tapi kini setelah satu pekan berlalu, sepertinya telah terjadi kemajuan yang berarti. Yang awalnya 6 shaf kini tinggal 4 shaf. Beberapa jama’ah tidak lagi terlihat di saat sholat Isya’, Tarawih dan Shubuh.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Rasulullah sudah menunjukkan hal ini dengan hadits yang sangat terkenal. “Bahwasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan bahwasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehnya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikawininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Bila seseorang sudah meniatkan ibadahnya untuk sekedar menggugurkan rasa malu dengan tetangga, maka ketika tetangganya tidak lagi datang untuk sholat berjama’ah, maka itu sudah menjadi cukup untuk mengakhiri shalat jama’ahnya.

Berbeda ketika ibadah yang dilakukan memang untuk Allah. Karena Allah tetap ada dan akan selalu ada menerima ibadah yang dilakukan manusia. Lalu bagaimana denganmu sahabatku? Apakah kau beribadah karena sungkan kepada manusia atau kepada tetangga, guru, murid, atau orang tuamu? Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s