Beribadah kepada Allah itu Dipenuhi dengan Kemudahan, Masihkah Kau Enggan?

Ibadah kepada Allah itu ringan, tapi kadang manusia sendiri yang mempersulitnya. (sumber gambar: flickr.com)

Ibadah kepada Allah itu ringan, tapi kadang manusia sendiri yang mempersulitnya. (sumber gambar: flickr.com)

Sahabatku suatu ketika, Qais bin Sirman, salah seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshar pingsan di siang hari. Saat itu diketahui ia sebenarnya sedang berpuasa.

Ia menyampaikan bahwa di hari sebelumnya, saat hendak berbuka puasa, ia bertanya kepada istrinya, apakah ada makanan untuk berbuka, istrinya menjawab tidak ada. Lalu sang istri mencoba mencarikan makanan untuk suami tercintanya.

Lalu ketika sang istri kembali, ternyata ia mendapati bahwa suaminya telah tertidur. Dan sang suami baru terbangun setelah Rasulullah selesai melaksanakan shalat Isya’.

Pada waktu itu sebagaimana puasa para ahli kitab, bila seorang muslim tidak bisa berbuka hingga Isya’ datang, maka ia  harus menunggu berbuka di hari berikutnya. Lalu kejadian pingsan Qais bin Sirman itu terjadi.

Kisah lain adalah apa yang terjadi pada Umar bin Khattab dan Ka’ab bin Malik. Mereka melakukan hubungan suami istri dengan istri mereka setelah shalat Isya’, padahal saat itu ketentuan puasanya ialah mereka hanya boleh melakukannya setelah mereka berbuka di hari berikutnya.

Lalu Allah memberikan keringanan bahwa diperbolehkan berbuka dan menggauli istri meski telah melebihi Isya’. “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu” (QS. Al Baqarah: 187).

Kisah lain lagi terjadi saat Rasulullah mengajak para Sahabat ketika itu berangkat menuju Mekkah (fathu Makkah). Maka Rasulullah di sebuah tempat bernama Kadid, Rasulullah dan para sahabat membatalkan puasanya.

Di kesempatan lain, saat Rasulullah juga melakukan perjalanan di bulan Ramadhan bersama beberapa sahabat. Saat itu terlihat beberapa sahabat berbuka (membatalkan puasa) sementara lainnya tetap berpuasa. Dan Rasulullah tidak mencela keduanya (membolehkan).

Banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan keringanan yang diberikan oleh Allah untuk melakukan puasa. “….dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185).

Tidak hanya dalam puasa, dalam melaksanakan amal  ibadah lain, Allah juga memberikan keringanan-keringanan bagi manusia. Dalam sholat misalnya. Bila tidak mampu berdiri, bisa duduk, bila duduk tidak bisa, dipersilahkan berbaring, dan bila berbaring tidak bisa, dipersilahkan menggunakan isyarat.

Rasulullah juga telah berpesan, “Sesungguhnya sebaik-baik peraturan agama kalian ialah yang paling mudah, sesungguhnya sebaik-baik peraturan agama kalian ialah yang paling mudah.” (HR. Ahmad)

Sungguh agama ini menghendaki kemudahan maka janganlah kau mempersulit diri kalian sendiri. Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s