Bagi Pemimpin Sampul dan Isi itu Sama-Sama Penting

Sebelum visi misi, siapa yang akan memimpin selalu jadi pertanyaan

Sebelum visi misi, siapa yang akan memimpin selalu jadi pertanyaan (sumber gambar: flickr.com)

“Don’t judge the book by its cover” atau jangan menilai buku dari sampulnya. Karena bisa jadi buku itu berisi hal-hal yang baik namun sampulnya saja yang lusuh. Atau bisa jadi buku itu buruk tapi sampulnya yang memikat.

Kalimat di atas kini menjadi banyak panutan. Padahal menurutku yang mengucapkannya sendiri terkadang tidak bisa lepas dari menilai sebuah buku dari covernya. Atau paling tidak menurutku manusia tidak bisa melepaskan pandangan itu.

Ketika sebuah pilihan itu mengandung resiko, ketika pilihan itu memiliki harga yang harus dibayar, dan kau tidak memiliki banyak waktu serta sumber daya untuk mengetahui kondisi sebenarnya, kau akan kembali ke watak manusiamu, memilih berdasarkan sampulnya.

Cover yang baik identik dengan isi yang baik. Cover yang jelek identik dengan isi yang jelek. Bila isinya memang baik, seharusnya ia tidak mau berada dibalik sampul yang jelek. Dan hanya isi yang jelek saja yang bersedia berada dibalik sampul yang jelek.

John Maxwell dalam sebuah ungkapannya tentang kepemimpinan juga mengatakan hal yang sama. “People buy into the leader before they buy into the vision”. Manusia itu mencari integritas, sebelum mencari visi.

Di dunia ini banyak orang yang memiliki visi yang bagus dan mulia, namun tidak banyak yang bisa menunjukkannya dalam integritas perilakunya. Bila memang apa yang ada dalam kepala dan hatinya baik, maka seharusnya apa yang ada dalam perilakunya juga baik.

Dan memilih pemimpin itu membutuhkan resiko yang besar. Di tangan seorang pemimpinlah, para pemilihnya akan memasrahkan arah perjuangan mereka untuk hidup yang lebih baik. Ada harga yang harus dibayar untuk memilih pemimpin.

Dan karena harga itu terlalu mahal, mereka tidak hanya butuh visi dan misi, tapi mereka juga butuh bukti nyata integritas yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Karena sudah semestinya yang baik itu berada dibalik sampul yang baik. Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s