Bu Riani, Berjuang dari Nol untuk Masa Depan Anak

Bu Riani di depan ruko (rumah sekaligus toko)-nya

Bu Riani di depan ruko (rumah sekaligus toko)-nya

Namanya pendek, Riani atau Bu Riani, begitu aku memanggilnya. Ibu yang satu ini sebenarnya bukan penduduk asli Surabaya. Sejak tahun ’95-an (Bu Riani sendiri sudah lupa tepatnya) beliau beserta dua anaknya pindah ke Surabaya dari Lamongan.

Sang suami sendiri yang juga asli Lamongan telah berada di Surabaya sebelum Bu Riani datang. Saat itu profesi suami Bu Riani adalah tukang becak yang mangkal di jalan Ahmad Jais.

“Tahun pertama saya datang ke Surabaya, saya ngontrak rumah di Keputih Tinja ini.” Lanjut Bu Riani yang usianya kini menginjak 39 tahun menceritakan kisah perjalanan hidupnya. “Saya ketika itu ikhtiar, membantu suami dengan berjualan gorengan dan kerupuk”.

“Setelah satu tahun, saya dan keluarga pindah kontrakan, dan berbekal uang modal Rp 20.000 rupiah dari suami, saya menambah dagangan warung saya dengan jajanan renteng. Dan setelah dua tahun kemudian saya membeli rumah ini dan mulai buat toko sendiri.”

“Kini anak saya sudah lima dari empat kali melahirkan karena yang terakhir usia empat tahun terlahir kembar. Yang pertama laki-laki, dan adik-adiknya semua perempuan“. Kisah beliau.

“Suami saya sekarang tidak lagi mbecak, kini sudah ada mobil teman yang diamanahkan untuk dijalankan sebagai mobil carteran. Ya, kadang-kadang kalau musim nikah, ramai, kadang juga sepi.”

“Bagaimana dengan dagangan ‘Njenengan Bu?” tanyaku. “Kalau dibanding dulu, sekarang sih sepi sekali Mas.” Aku balik bertanya, “Berarti dulu ramai ya Bu. Kapan ramai-ramainya warung Ibu?”

Tempat Pembuangan Akhir Sampah

Tempat Pembuangan Akhir Sampah (sumber gambar: sindonews)

“Ya dulu waktu Tempat Pembuangan Akhir sampah masih dibuka di Keputih. Dulu banyak anak-anak yang biasa pegang uang sendiri hasil jual sampah. Dan karena ketika itu belum banyak warung seperti sekarang, Jadi ramai warung saya. Kini setelah ditutup, maka, ya seperti inilah Mas, sepi”.

“Apakah tidak ada keinginan coba yang lain Bu?” tanyaku. “Keinginan sih ada mas, maunya, kalau warung ini ada yang jaga, saya mau buka warung nasi bebek, tapi karena belum punya modal, ya tidak dulu”.

Kini Bu Riani sedang mengurus surat pindah kependudukan dari Lamongan, karena dengan mengantongi KTP dan KK Surabaya, anak-anaknya akan lebih mudah bersekolah di sekolah negeri di Surabaya, biayanya akan lebih terjangkau.

Dan ketika ditanya tentang pendidikan anaknya, beliau menjawab, “Asalkan saya masih sehat dan masih sanggup membiayai, saya akan tetap mempersilahkan anak saya melanjutkan sekolah.”

Sahabatku, beliau adalah salah satu dari puluhan peserta program KSM PKPU Surabaya. Dengan pinjaman bergulir tanpa bunga, beliau masih bisa bertahan menghadapi semakin naiknya harga barang dan mahalnya kebutuhan hidup.

Berawal dari nol, hingga punya toko sendiri meski jadi satu dengan tempat tinggal, dan kini kondisinya kadang naik dan turun, tersimpan keinginan besar agar anak-anaknya bersekolah lebih tinggi daripada dirinya.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s