Kok Puasaku Tidak Bisa Menurunkan Hawa Nafsuku?

Bentengnya sudah besar, tapi kalau pintu dan jendelanya dibuka ya musuh tetap bisa masuk (sumber gambar: flickr.com)

Bentengnya sudah besar, tapi kalau pintu dan jendelanya dibuka ya musuh tetap bisa masuk (sumber gambar: flickr.com)

Aku pernah mendapati pertanyaan ini diajukan oleh salah seorang temanku. Ia berkeluh kesah atas bagaimana ia sangat ingin mengatur hawa nafsunya, tapi mengapa, setelah ia berpuasa juga tidak hilang hawa nafsu itu.

Ia bertanya-tanya, “Apakah mungkin puasanya tidak bisa menahan luapan hawa nafsunya?” Pertanyaannya juga membuatku bertanya-tanya, apakah mungkin hal itu terjadi? “Apakah puasa itu benar-benar bisa menurunkan hawa nafsu seseorang?”

Lalu aku menemukan sebuah hadits shahih yang berbunyi seperti ini, “Wahai segenap pemuda, barangsiapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah kawin. Sesungguhnya perkawinan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tapi barangsiapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena (puasa itu) benteng (penjagaan) baginya.” (HR. Bukhari)

Bila memang demikian yang disampaikan oleh Rasulullah, berarti benar adanya puasa memang menjadi benteng untuk membentengi seseorang dari hawa nafsunya.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan fenomena temanku di atas?

Aku yakin bahwa puasa bisa membentengi seseorang. Seseorang biasanya mengumbar hawa nafsunya ketika dia merasa segar dan kuat. Maka ketika tidak berpuasa, segala apa yang diinginkan hawa nafsunya akan dilaksanakannya.

Tapi begitu ia berpuasa, maka suplai tenaganya akan berkurang. Dengan sendirinya hasrat atau keinginan itu akan terkurangi. Jadi puasa itu memang mampu menjadi benteng.

Namun puasa dari mengkonsumsi makan dan minum saja tidak cukup. Bila matanya masih bermaksiat, pikirannya juga masih membayangkan yang tidak-tidak, hawa nafsunya tetap mendapat makanan. Maka sumber hawa nafsunya juga harus dihilangkan termasuk yang selain makan dan minuman.

Caranya?

Ya dengan mengalihkan mata dan pikiran kepada hal yang lebih bermanfaat, seperti membaca buku, tilawah, dzikir, atau kalau menonton juga harus acara bermanfaat. Tayangan seperti kisah hidup para Nabi dan Sahabat juga sudah ada.

Bagaimana dengan setelah berbuka?

Apakah setelah berbuka kemudian diperbolehkan lagi mengumbar hawa nafsu? Tentu saja tidak. Begitu juga setelah Ramadhan usai. Masa-masa itu malah jadi pembukti apakah puasa yang telah dilaksanakan benar-benar berdampak.

Berat memang bagi yang memang sudah terbiasa mengikuti hawa nafsunya. Kesungguhan untuk menghindarinya insya Allah akan menjadi catatan kebaikan tersendiri di sisi Allah.

Dan karena keimanan itu kadang naik dan turun, maka saat kau merasa bahwa kau mengikuti hawa nafsumu, sadarlah bahwa pastilah saat itu imanmu sedang turun. Tingkatkan imanmu dengan menggunakan energi untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Wallahu a’lam.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s