Manusia Berpikir Banyaknya Kenikmatan Dunia itu Pertanda Cinta Allah Kepadanya, Padahal…..

Kekayaan yang besar“Kalau Allah tidak mencintaiku, mengapa Allah memberikan semua kebaikan ini kepadaku?” Pertanyaan inilah yang seringkali menipu manusia yang telah diberi Allah kelebihan berupa harta, kedudukan dan anak.

Mereka mengira dengan memiliki semua kebahagiaan di dunia itu adalah sebuah pertanda bahwa semua itu bukti cinta Allah. Tapi benarkah pikiran-pikiran mereka itu?

Marilah kita tengok sebentar kepada orang-orang yang telah jelas dicintai oleh Allah yakni para nabi dan rasul. Di antara sekian banyak nabi yang dijelaskan dalam Qur’an berapakah di antaranya yang memiliki kebesaran dunia?

Paling tidak, hanya ada tiga nabi yang diberikan karunia oleh Allah seperti itu yakni Nabi Yusuf as., Daud as., dan Sulaiman as. Selebihnya, mereka diberikan kehidupan dunia yang sederhana bahkan cenderung kekurangan.

Begitu juga dengan Nabi kita Muhammad saw. Beliau juga bukanlah orang yang memiliki kerajaan dan pengawal dari malaikat. Beliau terluka saat perang, bekerja untuk mendapatkan nafkah, bahkan mendapati persoalan rumah tangga bersama istri-istri beliau.

Berarti bagi mereka yang menyangka bahwa kenikmatan dunia itu adalah bukti cinta Allah sebenarnya sedang tertipu.

Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.

Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,

dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,

dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” (QS. Al Kahfi: 32-36)

Sumber inspirasi: Tafsir Ibnu Katsir Al Kahfi ayat 32-36

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s