Tak Ada Pengistimewaan dalam Dakwah Islam

Sumber gambar: flickr.com

Sumber gambar: flickr.com

Sahabatku, suatu ketika Rasulullah diundang untuk duduk bersama para pembesar Quraisy. Mungkin untuk berdiskusi, mungkin untuk membicarakan agama baru yang dibawa oleh Muhammad saw.

Tapi sebelum Rasulullah memasuki tempat berkumpul para pembesar Quraisy, sebuah peristiwa terjadi. Mereka berkata, “Bila kau ingin duduk bersama kami, maka tinggalkan mereka Muhammad.”

Rasulullah ketika itu datang bersama 6 orang pengikutnya yakni, Bilal, Ammar, Suhaib, Khabbab, Ibnu Mas’ud dan Sa’ad bin Abi Waqash. Para pembesar Quraisy keberatan berkumpul dengan yang tidak selevel.

Bagaimana bila itu terjadi padamu sahabatku? Ketika kau mengajak kepada kebaikan, kau melihat orang-orang yang memiliki potensi yang besar. Mereka menguasai keunggulan dan kelebihan di antara masyarakat.

Bisa jadi kau mengira bahwa bila mereka menerimamu dan bersedia berbuat kebaikan, betapa besar pahala yang akan kau dapatkan nantinya. Bisa jadi kau memilih untuk berdakwah dan duduk bersama para pembesar.

Tapi ingat sahabat, jangan sampai duduk dan diskusimu membuatmu menghindar dari mereka yang telah menerima dakwah kebaikanmu. Meski di mata manusia mereka terlihat tidak signifikan dan berarti.

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padaNya.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.  (QS. Al Kahfi: 27-28)

Allah mengingatkan Rasulullah agar jangan hanya melihat pada mereka yang memiliki potensi dunia padahal belum tentu mau menerima dakwah tapi sudah meminta diistimewakan, ini adalah pertanda penolakan.

Bagaimana denganmu sahabatku?

Sumber inspirasi: Tafsir Ibnu Katsir, Al Kahfi: 27-28

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s