Sony, Sharp dan Panasonic Merugi, Tapi Tidak Dengan Hitachi, Apa Yang Sedang Terjadi di Jepang?

pilih yang mana? (sumber gambar: flickr.com)

pilih yang mana? (sumber gambar: flickr.com)

Sony, Sharp dan Panasonic adalah tiga brand yang sudah sangat familiar di keluarga Indonesia. Barang-barang produksi mereka mungkin sudah terbiasa kita nikmati di rumah. Tapi tahukah kau sahabat bahwa di negeri asal mereka kebangkrutan membayangi.

Panasonic diperkirakan akan mengalami kerugian US$ 8 trilyun tahun ini, sementara Sharp diperkirakan akan mengalami kebangkrutan karena merugi US$ 5 trilyun. Apakah yang sedang terjadi di Jepang sana?

Penyebabnya?

Revolusi digital. Ketika kau datang ke Jepang dan naik kendaraan umum, kau tidak akan lagi menemukan orang menggunakan walkman. Tapi iPhone atau produk-produk samsung.

Kebangkitan Jepang memang di awali dengan membanjirnya barang-barang elektronik buatannya,televisi, radio, kulkas, mesin cuci. Tapi ketika Apple dan Samsung muncul. Revolusi Digital sudah dimulai.

Barang-barang produksi Jepang yang didominasi oleh elektronik yang mekanik tanpa software kini mulai terpinggirkan. Televisi sekarang bisa dilihat di handphone. Tak perlu lagi membeli televisi dalam ukuran besar.

Mengapa Hitachi Tidak?

Hitachi yang kini dipimpin oleh Hiroaki Nakanishi mengambil langkah yang tidak berjiwa Jepang. Ketika ia diminta memimpin di tahun 2010, kondisinya Hitachi sebenarnya juga tidak jauh berbeda. Hitachi diprediksi akan mengalami kesulitan.

Dia menyadari betul revolusi digital ini, sehingga dia memutuskan untuk menutup atau menjual pabrik yang mengalami kerugian, sebagian besar adalah pabrik yang memproduksi barang-barang “consumer electronic.”

Dan ia juga memutuskan tidak bersaing dalam hal iklan, karena rata-rata perusahaan Jepang tidak memiliki dana yang banyak untuk hal ini. Maka untuk bertahan Pak Nakanishi memilih fokus.

Hitachi kembali pada kekuatan yang ia miliki yakni di “heavy engineering”. Turbin gas, turbin uap, pembangkit listrik tenaga nuklir, kereta api dengan kecepatan tinggi, inilah kompetensi yang unggul yang dimiliki Hitachi terutama bila mereka masuk di negara berkembang.

Hasilnya, Hitachi meraih keuntungan. Mereka bisa bersaing dengan perusahaan lain di Inggris untuk proyek kereta api cepat.

Perubahan itu pasti, sebagaimana perusahaan Jepang mengalahkan perusahaan Amerika di tahun 50 dan 60an, kini perusahaan Jepang harus belajar mengkuti revolusi digital bila mereka ingin tetap bertahan.

Atau sebagaimana Hitachi, Fokus pada kompetensi utama yang mereka miliki. Bagaimana menurutmu sahabat?

Sumber: BBC NEWS ASIA

Artikel terkait:

1. Dua Alasan Besar Kenapa Harus Fokus

2. Kisah Kemerosotan dan Kebangkitan Kembali Burberry, Jas Hujan Seharga 9,5 Juta

3. Pelajaran Kepemimpinan dari Steve Jobs

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s