Kisah Kemerosotan dan Kebangkitan Kembali Burberry, Jas Hujan Seharga 9,5 Juta

jas hujan ini satunya berharga Rp 9,5 juta

jas hujan ini satunya berharga Rp 9,5 juta (sumber gambar)

Burberry, sesuatu yang baru bagi diriku dan mungkin juga bagi sebagian besar orang di dunia ini. Tapi ada hal yang menarik dari sebuah produk dengan merek Burberry ini.

Apa yang dijual Burberry? Mereka menjual jas hujan. Iya benar, jas hujan dan bukan sekedar jas hujan biasa. Kenapa? Karena harganya saja mencapai lebih dari US$ 1.000 (Rp 9.643.000) untuk satu jas hujan. Benar-benar gila harganya.

Tapi tahukah kau cerita yang menarik yang selama ini terjadi di Burberry? Mereka di tahun 2006 mengalami sebuah fase penjualan yang menurun. Padahal mereka sudah berusia lebih dari 100 tahun. Tepatnya mereka berdiri tahun 1856.

Memang seharusnya perusahaan yang berdiri lama menjadi semakin kokoh dan kuat, namun tidak demikian yang terjadi di lapangan. Burberry adalah salah satu contohnya. Mereka di usia yang makin tua, malah merosot. Apa yang menyebabkan mereka merosot?

Alasannya adalah karena diversifikasi. Burberry sebenarnya telah dikenal sebagai produsen jas hujan yang mewah, ingat kata-kata mewah. Jas hujan mereka dipakai oleh para jendral perang Inggris dan para artis-artis yang melegenda.

Dan ketika mereka telah dikenal sebagai sebuah merek mewah dalam jas hujan, sedikit demi sedikit muncul godaan. Kalau jas hujan yang mewah saja bisa berharga US$ 1.000 bagaimana kalau kita memunculkan produk lain dengan merek Burberry.

Benar saja setelah itu, banyak produk pakaian dengan merek Burberry bermunculan. Bahkan mereka sampai membuat tali untuk anjing.

Namun hal itu lambat laun malah membuat produk mereka tidak lagi “luxury” atau mewah dan eksklusif, semuanya menjadi serba so-so. Kemewahan yang dulu menjadi kata penting bagi Burberry semakin hilang.

Ditambah lagi dengan bermunculannya pabrik-pabrik di berbagai negara. Dan tiap pabrik ternyata memiliki desain-desain tersendiri. Makin hilanglah image eksklusif itu dari Burberry.

Tapi mereka kemudian sadar, mereka kemudian menemukan masalah yang membuat mereka tidak lagi besar adalah karena mereka tidak fokus pada kata mewah dan eksklusif. Mereka bukan lagi merek yang layak dikenakan oleh para milyuner.

Solusinya? Tentu saja mereka kembali ke fokus awal, yakni, jas hujan mewah dan eksklusif. Memang tidak mudah, karena dengan fokus ada konsekuensi yang harus diambil. Termasuk menutup beberapa pabrik yang produksinya tidak fokus pada jas hujan.

Mereka bahkan dipanggil oleh pihak pemerintah karena penutupan pabrik berdampak meningkatnya pengangguran. Tapi mereka tetap tegar dengan keputusan fokus, karena bila tidak, resiko ke depannya akan jauh lebih besar.

Beberapa pabrik yang masih beroperasi tidak diperkenankan membuat desain. Semua harus terpusat. Ini juga adalah sebuah konsekuensi fokus. Karena mereka membidik pangsa pasar mereka adalah kalangan milyuner. Desain mereka tidak boleh asal-asalan. Semuanya harus perfect dan inovatif.

Tidak hanya itu, bahkan kepada para salesmannya, mereka menyediakan jas hujan yang bisa mereka kenakan dan juga iPad. Kenapa? Karena mereka ingin mendapatkan lagi image sebagai sebuah merek (brand) yang mewah dan eksklusif.

Hasilnya, penjualan mereka makin meningkat dari tahun ke tahun. Produk jas hujan yang dulu penjualannya hanya 20% dari total penjualan, kini bahkan mencapai 50% lebih. Beberapa pabrik dibuka untuk produksi jas hujan, dan bahkan menyerap tenaga kerja 1000 orang dalam waktu dua tahun.

Jadi fokus memang berat, susah, dan penuh resiko, tapi bila tidak, maka produkmu akan semakin hilang dari pikiran pelanggan. Fokus-fokus-fokus.

Wallahu a’lam

sumber inspirasi: Harvard Business Review

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s