Profesi Kami Pun Bertambah dengan Menjadi Debt Collector

Dulu, kami pun bahkan menjadi penagih hutang. Kini, tidak lagi

Dulu, kami pun bahkan menjadi penagih hutang. Kini, tidak lagi

Berikut ini adalah catatan sejarah yang membuat kami merubah konsep program KSM kami sehingga menjadi lebih guyub dan teratur dengan mencontoh konsep kerja Grameen Bank tapi tanpa bunga dan jaminan. Dan yang terpenting kami tidak lagi menjadi Debt Collector atau penagih hutang.

Ini adalah sebuah catatan tersendiri tentang sebuah program yang bernama KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Aku tidak tahu kapan sebenarnya program ini dimulai. Yang jelas ketika aku masuk di PKPU sebagai relawan (2008) program ini sudah ada.

Ini adalah sebuah sejarah pahit tentang sebuah konsep program yang susah dan menurutku berat untuk dilakukan di Surabaya. Atau mungkin ini juga karena kelemahan kami, para relawan yang dibebani untuk mensukseskannya.

Program ini tujuan akhirnya adalah membentuk koperasi bagi para dhuafa. Di sana nantinya diharapkan nanti para dhuafa inilah yang menjadi pengurusnya. Mereka yang menjalankan semua roda koperasi ini.

Impian kami yang mulia terbentur dengan kondisi para penerima manfaat (dhuafa). Entahlah, mungkin karena semangat kami yang terlalu menggebu-gebu sehingga memaksa para penerima manfaat yang hanya lulusan SD bahkan tidak bersekolah untuk menjadi anggota koperasi, sebuah organisasi yang belum tentu bisa dijalankan oleh mereka yang sarjana.

Tapi itulah yang menurut kami memungkinkan saat itu. Maka kami pun mengajarkan kepada mereka pembukuan, simulasi penggunaan keuangan untuk ekonomi produktif, dan berbagai macam cara rapat.

Yang datang banyak, semua rata-rata datang. Tapi itu hanya di awalnya. Setelah 3-4 kali pertemuan, jumlah itu menyusut separuhnya. Aku dan timku khawatir. Apakah program ini masih tetap bisa dijalankan?

“Tenang saja, nanti ketika waktu perguliran modal mereka akan kembali lagi.” Ucap penanggung jawab program kami. Dan hal itu memang benar. Mereka yang malas hadir ternyata berjubel saat pencairan dana.

Tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak benar. Karena ketika pencairan dana, dana itu dibagikan kepada semua peserta. Tapi hari itu berlalu dengan pencairan dana dan penandatanganan surat perjanjian pengembalian.

Selanjutnya adalah saat pengembalian modal tiap kali pertemuan dua pekanan. Namun nyatanya pengembalian modal tidak berjalan lancar. Dan individualisme orang Surabaya membuat mereka tidak perduli lagi dengan tetangganya.

“Yang penting saya sudah bayar Mas, urusan tetangga saya, biarlah dia sendiri yang berurusan dengan sampean.” Sebuah ungkapan yang setelah itu rutin kudengar saat kutanya bagaimana tetangga mereka yang juga menikmati perguliran modal.

Maka jadilah kami sejak saat itu memiliki profesi debt collector.

Bagaimana denganmu sahabat? Pernahkah kau memiliki pengalaman yang sama? Apakah kau punya solusi terhadap masalah-masalah kemiskinan?

 

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s