Program Lembaga Amil Zakat Apakah Benar-Benar Memberdayakan?

Apakah cukup hanya dengan memberikan, mereka bisa berdaya?

Apakah cukup hanya dengan memberikan, mereka bisa berdaya?

Kuantitas atau kualitas, sesuatu yang menjadi menarik diperbincangkan. Apalagi berkenaan dengan lembaga sosial atau lembaga amil zakat. Jumlah mustahik atau penerima manfaatnya selalu bertambah. Tapi terkadang tidak sebanding dengan jumlah dana yang diberdayakan.

Mungkin bukan hanya dengan dana, tapi juga dengan program. Memang dana selalu menjadi pokok pikiran di lembaga amil zakat. Program yang bagus biasanya akan menghabiskan banyak dana. Program yang bagus, dana besar namun penerimanya hanya sekelumit, itupun juga terkadang masih menjadi pertanyaan, apakah program itu benar-benar bisa berhasil?

Muncul juga pertanyaan, ini lembaga sosial atau amil zakat kerjanya ngapain aja sih? Dana sekian milyar kok tidak ada juntrungannya. Di sisi lain ada orang-orang yang ingin melihat agar sumbangannya ingin dilihat dan terasa dengan langsung. Maka mau tidak mau muncullah program-program yang sifatnya charity.

Santunan ini dan santunan itu. Program yang mengutamakan pemberdayaan akhirnya berkurang. Sesuatu yang sebenarnya bisa bermanfaat jangka panjang tapi harus tertunda atau bahkan terhenti karena permasalahan kebutuhan hidup lembaga.

Teringat sebuah kisah, zaman Khalifah Umar, ketika itu seorang yang miskin akan mendapatkan bagian dari zakat selama satu tahun penuh. Artinya kebutuhannya dan keluarganya akan ditanggung oleh baitul maal selama setahun penuh. Bila tahun depan ia masih miskin, berarti ia akan mendapatkan lagi jatah pembagian zakatnya.

Pernah mengusulkan, “Bagaimana bila satu orang mustahik di desa itu kita buatkan kandang dan dibelikan kambing hingga batas nishab alias 120 ekor”. Dengan begitu dia tidak lagi menjadi miskin. Ia bisa menjual beberapa kambing dan membudidayakan ternaknya. Tahun depan harapannya ia tidak lagi menjadi mustahik.

Bila kandang dan kambingnya total kurang lebih 120 juta rupiah. Maka  keluarga tersebut bisa lagi tidak menjadi miskin di tahun yang akan datang. Tapi ini juga tidak mudah, bagaimana dengan lingkungannya?

Apakah tetangganya yang juga butuh tidak iri? Apakah tidak jadi gejolak sosial? bagaimana dengan program yang lain, bila hanya untuk satu keluarga miskin 120 juta rupiah.

Kira-kira bagaimana Umar bin Abdul Aziz membuat nol penerima zakat ya?

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s