Apa Kunci Komunikasi dengan Remaja?

Aneh memang, saat kau butuh berkomunikasi yang kau butuhkan bukan berbicara tapi mendengarkan.

Aneh memang, saat kau butuh berkomunikasi yang kau butuhkan bukan berbicara tapi mendengarkan.

Berapa kali kau berkomunikasi dengan anak-anak remajamu sahabat? Bisa jadi ada yang sering dan bisa jadi ada yang jarang. Namun terkadang remaja cenderung tidak perduli dengan keinginan orang tuanya.

Orang tua sadar bahwa komunikasi yang baik antara orang tua dan anaknya mutlak diperlukan. Tapi remaja? Apakah mereka juga memiliki kesadaran yang sama untuk berkomunikasi dengan orang tuanya? Belum tentu

Bagaimana agar kita bisa berkomunikasi dengan remaja-remaja kita? Tapi sebelum menjawab itu, aku akan memberikan sebuah kondisi yang kadang-kadang susah dihadapi oleh para orang tua.

Ibu: “Susan, bagaimana di sekolah?”

Susan: “Bagaimana apanya Bu?”

Ibu: “Ya bagaimana kondisinya? Apakah ada masalah dengan teman? Apakah gurunya ada yang aneh?”

Susan: “Ibu benar-benar ingin tahu?”

Ibu: “Ya iyalah!”

Susan: “Sekolahnya tidak asik, semua serba tidak boleh, begini tidak boleh, begitu tidak boleh? Sebal, ingin pindah sekolah saja.”

Bagaimana menurutmu biasanya ibu-ibu menanggapi seperti ini? Bila yang keluar adalah, “Kamu jangan begitu, sekolah itu adalah sekolah yang baik, jangan-jangan kamu yang nakal.” Maka bisa jadi di waktu selanjutnya ia tidak akan bercerita lagi, karena yang ia dengar adalah ibunya menceramahinya. Bukan mendengarkan ceritanya.

Dan memang itulah sebenarnya mereka butuhkan. Mereka butuh untuk didengarkan terlebih dahulu. Mereka tidak butuh ceramah bahwa apa yang mereka lakukan jelek dan lain sebagainya.

Ketika kau memutuskan untuk menjalin komunikasi dengan mereka, itu berarti kau harus lebih banyak mendengar terlebih dahulu. Memposisikan diri mereka yang hidup di jaman seperti sekarang ini. Rasakan bila kau berada sebagai temannya. Dengarkan dulu keluh kesah mereka, bukan menceramahi mereka.

Wallahu A’lam

Inspirasi dari: I’d Listen to My Parents if They Just Shut Up karya Anthony E. Wolf, Ph. D.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s