Sejarah Jalur Gaza (Serial Palestina-Israel)

1. Setelah Inggris menguasai Palestina, jumlah warga Yahudi semakin bertambah dari 1/10 menjadi 1/3 warga Palestina di tahun 1947; 2. Di tahun 1947 PBB merencanakan 53% wilayah Palestina diberikan kepada Negara Yahudi; 3. Setelah perang, 418 kota di Palestina dikuasai Israel, dan penduduknya diusir (78% dikuasai oleh Israel).

Keputusan PBB mengeluarkan resolusi The UN Partition Plan dan berdirinya negara Israel ditentang oleh negara-negara Arab sehingga mendorong pecahnya perang Arab-Israel (Perang Al-Nakbah) tahun 1948. Israel harus menghadapi serangan Yordania, Irak, Syria, Lebanon, dan Mesir.

Perang yang dimenangkan oleh Israel tersebut berakhir melalui serangkaian kesepakatan gencatan senjata (Januari – Juli 1949) antara Israel dengan Mesir, Lebanon, Yordania, dan Syria. Pada dasarnya, gencatan senjata tersebut mempertahankan kedudukan teritorial yang dihasilkan melalui perang.

Hasilnya adalah Israel menguasai tiga perempat wilayah Palestina, 21% lebih luas daripada Rencana Pembagian yang diajukan oleh PBB tahun 1947. Karena dalam perang Al-Nakhbah, Israel berhasil merebut beberapa wilayah Palestina dari tentara negara-negara Arab.

Gencatan senjata pasca perang menyepakati bahwa Tepi Barat dan Jerusalem Timur berada di bawah kontrol Yordania, wilayah Gaza dan sekitarnya di bawah kontrol Mesir, sedangkan sisanya menjadi bagian dari negara baru, Israel.

Dari sinilah mulai muncul istilah “Jalur Gaza”, yaitu wilayah Gaza dan sekitarnya yang di dalam naskah gencatan senjata setelah perang Arab-Israel pertama diakui sebagai entitas terpisah di bawah pengawasan Mesir.

1. Sebelum perang 1967, Sinai, Gaza, Samaria, Judea, dan sebagian dataran tinggi Golan belum dikuasai oleh Israel; 2. Setelah perang 1967, semua daerah tersebut dikuasai oleh Israel.

Jalur Gaza sempat diduduki oleh Israel ketika Israel menyerang Mesir pada tanggal 2 November 1956 karena nasionalisasi Terusan Suez. Israel menarik pasukannya dari Jalur Gaza pada bulan Maret 1957. Namun kemudian, pecah Perang Enam hari pada tanggal 5-11 Juni 1967.

Perang yang disebabkan ketegangan yang masih berkelanjutan antara negara-negara Arab dan Israel ini mengakibatkan Jalur Gaza dikuasai kembali oleh Israel. Setelah mengalahkan Mesir dalam perang ini, Israel tidak hanya menguasai Jalur Gaza, tapi juga Tepi Barat, Jerusalem Timur, Dataran Tinggi Golan, dan Gurun Sinai.

Perang selama enam hari telah mengakibatkan gelombang eksodus kedua penduduk Palestina dari tempat tinggal mereka (eksodus pertama terjadi pada perang Al-Nakhbah, 1948). Tercatat sebanyak 250.000 penduduk Tepi Barat, 70.000 penduduk Jalur Gaza, dan 90.000 penduduk Dataran Tinggi Golan menjadi pengungsi selama perang.

Sejak Israel memenangkan perang dan menguasai wilayah yang lebih luas, rakyat Palestina berada di bawah pengawasan militer Israel. Israel mulai menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina, gencar membangun pemukiman bagi orang-orang Yahudi, membangun pos-pos pemeriksaan, dan menjaga ketat pintu-pintu gerbang di Jalur Gaza.

Pada 6 Oktober 1973, Mesir dan Syria menyerang Israel (Perang Yom Kippur) dengan tujuan untuk mengambil kembali wilayah yang diokupasi Israel akibat perang 1967. Tujuan tersebut baru terealisasi pada 17 September 1978 ketika Mesir dan Israel menyepakati perjanjian damai di Camp David. Selain dikembalikannya Semenanjung Sinai di bawah kontrol Mesir, perjanjian Camp David juga memuat rencana pembentukan otoritas pemerintahan sendiri di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Pada tahun 1994, Israel menarik diri dari sebagian wilayah Jalur Gaza sebagai konsekuensi dari kesepakatan Oslo 1993 antara Israel dan PA (inti kesepakatan ini adalah Gaza merupakan bagian dari Palestina dan Palestina berhak membentuk pemerintahan sendiri). Sejak itu, Israel dan Palestinian Authority (PA) berbagi kekuasaan di Jalur Gaza.

PA melakukan kontrol terhadap sipil sedangkan Israel melakukan pengawasan militer, bertanggung jawab penuh terhadap urusan luar negeri, perbatasan, dan keamanan terutama di sepanjang perbatasan internasional, yaitu dengan Mesir dan Yordania, serta keamanan pemukiman Israel yang ada di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Titik terang masalah Palestina muncul ketika Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, mengajukan Disengagement Plan sejak Desember 2003 dan akhirnya disepakati bersama Mesir, Yordania, dan PA pada pertemuan Sharm e-Sheikh tanggal 8 Februari 2005.

Disengagement Plan merupakan kebijakan penarikan mundur dari Jalur Gaza dan Tepi Barat bagian utara, baik militer maupun penduduk Israel, mulai pada tanggal 17 Agustus 2005 dan berakhir pada 12 September 2005. Keputusan tersebut menandai berakhirnya kekuasaan militer Israel atas Jalur Gaza yang sudah berlangsung sejak 1967 yang mengakibatkan 1.700 keluarga Yahudi yang tersebar di 21 pemukiman di Jalur Gaza terpaksa meninggalkan wilayah tersebut. (Berlanjut)

Kontributor:

Asih Juwariyah S. Hub. Int.

kanshaforlife.wordpress.com

Referensi

Beverley Milton-Edwards dan Peter Hinchcliffe, Conflicts In The Middle East Since 1945, 3rd edition (New York: Routledge, 2008)

George Lenczowski, Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia Edisi Ketiga (Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo, 1993)

Mike Berry dan Greg Philo, Israel and Palestine: Competing Histories (London: Pluto Press, 2006)

Mitchell G. Bard, Myths and Facts: A Guide to the Arab-Israeli Conflict (Chevy Chase, MD: American-Israeli Cooperative Enterprise, 2006)

Nina Shen Rastogi, “Gaza: The Basics, Some History and Background on the Gaza Strip,” Slate Magazine, 25 Januari 2008, http://www.slate.com/id/2182754/ (diakses 18 November 2010)

Trias Kuncahyono, Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada, dan Pembersihan Etnis (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009)

“Camp David Accords,” Israel Ministry of Foreign Affairs, 17 September 1978, http://www.mfa.gov.il/MFA/Peace%20Process/Guide%20to%20the%20Peace%20Process/Camp%20David%20Accords (diakses 24 November 2009)

“Israel’s Disengagement Plan: Renewing the Peace Process,” Israel Ministry of Foreign Affairs, 20 April 2005, http://www.mfa.gov.il/MFA/Peace+Process/Guide+to+the+Peace+Process/Israels+Disengagement+Plan-+Renewing+the+Peace+Process+Apr+2005.htm (diakses 3 November 2010)

“Oslo Accords,” http://www.palestinefacts.org/pf_1991to_now_oslo_accords.php (diakses 24 November 2009)

“Palestinian Authority,” The Reut Institute, 1 Oktober 2005, http://reut-institute.org/en/Publication.aspx?PublicationId=563 (diakses 13 Desember 2010)

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s