Mengapa Bisnisku Gagal? (Bag.2)

Hobi tidak selamanya bisa menguntungkan

Sarah, seorang pemilik usaha/bisnis kue pai. Ia berkeluh kesah kepada Gerber. Dengarkan keluhannya sahabat, bukankah keluhannya terdengar tidak asing di telinga?

S: Tahu nggak, tiga tahun ini adalah tiga tahu terpanjang dalam hidupku? Tahukah kamu bahkan aku membenci semua ini (toko kue pai). Kini aku bahkan benci memanggang kue pai. Aku tidak lagi bisa berpikir apapun tentang pai. Aku sudah tidak tahan dengan baunya. Aku tidak tahan melihatnya. (kemudian ia menangis)

Jam 7 pagi. 30 menit lagi tokonya buka. Namun pikirannya menerawang entah ke mana.

S: Sudah jam tujuh pagi (sambil mengusap air matanya). Tahukah kamu? Aku sudah di sini sejak pukul 3? Tahukah kamu aku harus sudah bangun jam 2 pagi untuk mempersiapkan semuanya? Kemudian aku harus menyiapkan kue pai, membersihkan toko, membuka toko, melayani pelanggan, menutup toko, menghitung uang, makan malam, dan menyiapkan adonan untuk esok pagi. Dan semua itu selesai baru jam 9 atau 10 malam. Dan itu pun aku masih harus berpikir apakah aku masih sanggup membayar biaya sewa toko untuk bulan depan.

S: Semua ini hanya karena ada saran dari teman-temanku bahwa aku ini gila. Dengan semua keahlianku memanggang kue, aku ternyata tidak membuka toko sendiri. Parahnya, aku malah menerima saran mereka. Ketika itu aku hanya melihat sebuah cara untuk keluar dari pekerjaanku, melakukan pekerjaan yang aku suka. (Ia kemudian menangis lagi)

S: Sial! Sial! Sial! (teriak Sarah sambil menendang dapurnya berkali-kali)

S: Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Lamunannya membawa ke masa lalunya di mana dia diajari oleh bibinya cara memanggang pie. Sepertinya saat itu adalah saat-saat yang indah. Kini, di mana bibinya di saat ia amat membutuhkannya?

G: Sarah, sekarang saatnya untuk belajar lagi dari awal. Apakah kau mau? Semua teknisi yang ingin menjadi pengusaha mengalami sebagaimana yang kau alami (Entrepreneurial Seizure). Pertama adalah semangat membara, kedua barulah muncul ketakutan, ketiga ketakutan itu diikuti kelelahan, dan keempat keputusasaan. Kau sudah memiliki nomerku khan?

S: Tapi apa yang harus aku lakukan?

G: Kau harus belajar selangkah demi selangkah. Permasalahan teknisi bukan satu-satunya yang harus kau hadapi

Sumber artikel: The E-Myth Revisited, Why Most Small Business Don’t Work and What to Do About It

Karangan: Michael E Gerber

Sumber gambar: http://www.flickr.com

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s