Mengapa Bisnisku Gagal? (Bag. 1)

Bangkrutnya bisnis dimulai dari ketidakmampuan pelakunya

Di Amerika Serikat, satu juta bisnis baru muncul tiap tahun. Namun dalam tahun pertamanya 40 persen di antaranya gulung tikar. Dan kemudian dalam lima tahun 80 persen-nya akan bangkrut. Dalam lima tahun 800.000 bisnis baru akan hilang.

Dan jangan senang dulu. Sisa 200.000 yang bertahan hingga lima tahun pertama, 80 persen-nya atau 160.000 akan hilang. Yang tersisa adalah 40.000 usaha saja. Bayangkan! Dari 1.000.000 bisnis, yang tetap bertahan dalam 10 tahun adalah 40.000 saja.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah demikian banyak kegagalan tidak pernah membuat orang belajar? Dan memang jawabannya adalah iya. Banyak orang tidak belajar dari kegagalan-kegagalan yang terjadi berkali-kali.

Apanya yang salah?

Mengapa banyak muncul bisnis di mana-mana? Namun ternyata tidak bertahan lama? Apakah ada yang salah? Di mana yang salah?

Marilah kita lihat ke waktu sebelum bisnis bermunculan. Maksud saya sebelum tiap orang membuat bisnis mereka sendiri, lihatlah apa yang terjadi!

Sebagaimana yang terjadi pada umumnya orang. Mereka yang memulai bisnis sendiri pada awalnya adalah orang yang bekerja pada seseorang. Pekerja teknis atau teknisi. Tukang kayu, penjahit, pelayan, desainer grafis, dan lain sebagainya. Yang mereka miliki adalah kemampuan teknis.

Dan mereka telah memiliki kemampuan yang top markotop dalam bidang itu. Tapi dengan kemampuan yang baik itu, nyatanya mereka masih bekerja untuk orang lain. Dan suatu saat, entah gaji yang kurang, melihat anak-anak yang mulai besar, atau perlakuan atasan yang kadang kurang manusiawi. Terbersitlah sebuah keinginan untuk memulai sebuah bisnis.

Pikiran mereka kemudian sudah mulai membayangkan. “Aku sudah tahu seluk beluk di pekerjaanku. Daripada bekerja untuk orang lain, apakah tidak lebih baik bekerja untuk diriku sendiri? Lagipula aku juga tidak terlalu dihargai. Tugas atasanku juga sepertinya tidak terlalu susah. Semua tinggal perintah saja.”

Dan akhirnya semangat untuk memulai bisnis sendiri sepertinya menjadi sebuah semangat yang tak terbendung. Gelora yang sepertinya membakar tubuh, dan tidak ada yang bakal bisa memadamkannya.

Namun di sanalah dimulainya sebuah kegagalan bisnis yang dimulai saja belum. Banyak orang berpikir bahwa seorang teknisi yang ahli dalam pekerjaannya akan mampu menjalankan sebuah bisnis yang telah ia kuasai secara teknis.

Padahal yang terjadi malah ia tidak lagi membangun bisnis, ia hanya membuat sebuah tempat di mana dia bekerja. Karena untuk hal-hal yang teknis ia bisa menguasainya. Namun sisi lain dari bisnisnya? Ia tidak tahu sama sekali. Dan karena ia sudah terlalu sibuk dengan urusan teknisnya, ia tidak lagi memiliki waktu dan semangat untuk mempelajari bisnis.

Akhirnya ia berubah bekerja untuk orang lain menjadi bekerja untuk dirinya sendiri. Ia tetap bekerja bahkan lebih keras, lebih lama namun sepertinya hasilnya bahkan tidak lebih baik dari saat ia bekerja untuk orang lain. Karena memang watak bisnis sangat berbeda dengan watak bekerja.

Apakah anda memulai sebuah bisnis? Atau sekedar bekerja untuk diri sendiri? Semoga mendapatkan pencerahan.

Wallahu A’lam

Sumber artikel: The E-Myth Revisited, Why Most Small Business Don’t Work and What to Do About It

Karangan: Michael E Gerber

Sumber Gambar: www.flickr.com

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s