Bagaimana Menghadapi Remaja yang Bawel?

Mengucapkan “tidak” pada permintaan anak remaja sepertinya mudah padahal kenyataannya tidak. Karena setiap ada jawaban “tidak” pada permintaan mereka, akan ada perdebatan dan argumen yang muncul. Kenapa tidak boleh? Kenapa si kakak boleh sedang dia tidak boleh? Kenapa si adik boleh dan dia tidak boleh? Begitu seterusnya.

Bila rengekan dan ucapan mereka yang kadang menyakitkan diladeni, malah seringkali timbul percekcokan yang lebih besar. Terus bagaimana? Apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi hal yang demikian? Berikut ada beberapa prinsip yang bisa dicoba untuk menghadapi argumen dan kecerewetan remaja.

Mendengarkan Argumen Mereka

Remaja sebagaimana di tulisan sebelumnya, memiliki baby self. Mereka ingin dimanja dan dipenuhi segala keinginannya sebagaimana anak kecil. Tapi mereka juga ingin menjadi dewasa sehingga tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain termasuk orang tuanya.

Ketika permintaan atau keinginan mereka tidak diluluskan, yang terjadi adalah merengek, dan muncul sifat bawel atau nggrundhel-nya. Selain itu bisa jadi ketika diminta untuk mengerjakan sesuatu, hal yang sama juga muncul.

Langkah awal adalah mendengarkan alasan yang mereka sampaikan. Apakah memang benar alasan yang mereka kemukakan masuk akal dan layak dipertimbangkan atau tidak? Bukan semena-mena dengan membenarkan semua pendapat kita. Hal itu malah membuat mereka tidak senang dengan diri kita. Dan bila memang argumen mereka layak, maka jangan sungkan untuk merubah pendapat kita (orang tua).

Mendiamkan

Bila ternyata pendapat mereka sangat tidak logis dan mengada-ada. Tetap hadapi dengan penjelasan yang logis mengapa kita tidak membolehkan permintaan mereka atau meminta mereka melakukan sebuah tugas. Namun ini juga ada batasnya. Dan ketika batas ini sudah muncul dengan tanda mulai naiknya tekanan darah alias marah. Maka sebaiknya kita kemudian tidak memberikan argumentasi lagi.

Ini menunjukkan bahwa kita tetap pada pendirian dan tidak akan meladeni argumen mereka yang tidak masuk akal. Jangan sekali-kali untuk kembali membuka diskusi ketika dia masih rewel, nggrundhel, atau marah. Yang terjadi malah akan membuat ia bersemangat untuk membalas argumen kita.

Tidak mengkritik balik mereka

Seringkali remaja ketika menunjukkan ketidaksetujuannya diiringi dengan cara yang bagi orang tua sangat menyakitkan. Maka seringkali orang tua ketika itu kemudian mengkritik cara mereka berbicara. Ini malah akan membuat pertengkaran yang jauh lebih hebat dan menguras energi kita.

‘Nak, tolong disapu ya lantainya?’

‘Kenapa mesti aku sih Bu? Kakak khan juga bisa. Pasti karena aku anak perempuan ya?’

‘Kok kamu malah membantah. Wong cuma disuruh menyapu saja kok?’

“Membantah? Siapa sih Bu yang membantah? Tidak ada yang membantah, aku hanya bilang kenapa bukan Kakak saja yang menyapu?’

Dan bila si Ibu terpancing, diskusinya akan berlangsung lebih lama.

Tetap Mengatakan Pendapat Kita

Akan memberikan efek yang berbeda bila si ibu membalas

‘Nak, tolong disapu lantainya?’

‘Ah, Ibu, lagi nanggung nih’

‘Nak, tolong disapu lantainya?’

Ia mungkin akan menyapu lantai meski agak nggrundhel. Tapi ia tahu bahwa ibunya tegas memegang kendali atas perintah yang ia sampaikan.

Wallahu A’lam

Semoga bisa membantu para orang tua masa kini. Dan mengingatkan diri sendiri betapa bandelnya kita di masa remaja dulu.

Sumber artikel: I’D LISTEN TO MY PARENTS IF THEY’D JUST SHUT UP, What to Say and Not Say When Parenting Teens

Karangan: ANTHONY E. WOLF, Ph.D.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s