Kutunggu Qurbanmu

 

Pagi itu seperti biasa, Tejo yang kini hanya tinggal berdua dengan ibunya tengah asik bermain-main dengan ayam peliharaannya di persawahan dekat rumahnya. Di desa yang cukup terpencil itu Tejo tak memiliki banyak teman untuk sekedar bermain bersama. Setiap hari hanya ayam jago kesayangannya lah yang menjadi teman bermain bagi Tejo.Tak berapa lama ia pun tampak mulai bosan dan berlari untuk menemui ibunya yang tengah bekerja membuat tusukan sate di belakang rumah.

“ Bu, ibu..” panggil Tejo pada ibunya dengan logat Jawa yang begitu kental.
“ Iya nak,” ibunya pun hanya menjawab singkat sambil tak henti tangannya terus bekerja membuat tusukan sate yang menjadi mata pencahariannya.
“Bu, tusuk satenya kurang berapa…?” kembali Tejo bertanya pada ibunya
Si Ibu pun tersenyum dan dengan sabar dan lembut kembali berucap pada anaknya,
“ Bentar ya nak, kamu bantuin ibu ya,,”
“ Ya bu..” jawab Tejo dengan riang.
“  Nanti kalau sudah jadi banyak, kita jual tusuk satenya”, si ibu kembali berujar pada anaknya.
“ Aku ikut jualnya ya bu..” Tejo pun menjawab dengan wajah polos kekanakannya.
“ Iya iya,” jawab sang Ibu sambil kembali tersenyum.

Ketika matahari mulai meninggi pekerjaan Ibu Tejo membuat tusuk sate pun selesai. Ratusan tusuk sate yang mungkin tak seberapa harganya itu pun siap untuk dijual. Maka bergegaslah Ibu bersama Tejo menaiki sepeda ontel tuanya pergi menuju warung sate yang sudah biasa membeli tusukan sate buatan Ibu Tejo.

Tejo yang baru pertama kali itu ikut Ibunya pergi menjual tusuk sate pun terpana melihat begitu banyaknya daging kambing yang bergelantungan di depan warung yang siap untuk diolah menjadi sate yang tentu nikmat rasanya. Begitu banyak pembeli yang makan di warung sate tersebut tampak lahap menikmati tusuk demi tusuk sate yang terhidang.
Tejo hanya mampu menelan kembali air liurnya. Karna tak pernah sekali pun tusukan-tusukan sate yang begitu banyak ada di rumahnya berubah menjadi Sate siap santap yang begitu nampak nikmat seperti yang ada di warung sate dihadapannya kini.

“ Bu ibu.. “ panggil Tejo sambil menarik-narik baju Ibunya yang baru saja selesai menjual tusukan satenya pada pemilik warung sate.
“ Iya nak,” jawab sang ibu.
Bu, sate kambing itu enak gak sih? Kok Ibu cuma bikin tusuk sate terus, kapan kita makan sate kambing bu..?”

Pertanyaan Tejo yang singkat namun cukup menusuk kalbu itu pun hanya dapat dijawab dengan senyuman oleh  Sang Ibu. Dengan penghasilan yang tak seberapa dari menjual tusukan sate tentunya hal yang tidak mudah bagi si Ibu untuk mewujudkan keinginan anaknya untuk merasakan nikmatnya makan sate kambing.

Ibu Tejo pun hanya dapat berdoa dalam hati, berharap semoga saja di perayaan Idul Adha yang sebentar lagi akan tiba terhampar keberkahan dan tersampaikan sekerat daging qurban ke rumahnya di desa yang terpencil ini. Karena hanya dengan begitulah Ibu Tejo dapat menyajikan Sate kambing untuk anaknya Tejo, bukan sekedar tusukannya saja. Semoga.

Tentunya masih banyak lagi kisah anak-anak di pelosok negeri ini yang rindu untuk dapat menikmati daging kambing atau sapi yang pada kehidupan sehari-hari hanya ada dalam khayalan mereka saja.

Idul Adha telah didepan mata. Kini saatnya bagi kita untuk menunjukkan kepedulian kita. Mari berqurban melalui Sebar Qurban Nusantara PKPU, qurban anda tidak hanya dapat disalurkan ke pelosok negeri namun bahkan juga dapat disalurkan ke luar negeri, kepada orang-orang yang membutuhkan.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s