Hikmah Terbesar Qurban dari Kisah Ibrahim as

Pemandangan penyembelihan hewan kurban di salah satu sudut kota Galatasaray, Turki

Banyak artikel lain yang mungkin sudah mengulas tentang banyaknya hikmah Qurban.  Namun ijinkan kami sahabat, untuk memberikan sebuah hikmah yang menurut kami adalah sebuah hikmah terbesar dalam qurban.

Dan hikmah ini ternyata tidak hanya dalam Qurban namun juga dalam ibadah-ibadah lainnya. Hikmah apakah itu? Ketaatan pada Allah semata.

Mengapa ini kami sebut sebagai sebuah hikmah terbesar? Karena ketaatan pada Allah inilah yang menjadi sebuah kriteria seorang hamba sebenarnya terhadap Sang Pencipta. Dan ketaatan ini jugalah yang menjadi bukti apakah kita beriman, cinta atau belum kepada-Nya.

Dulu Ibrahim as sangat merindukan keturunan, karena ia khawatir tidak ada yang meneruskan dakwah yang telah dibebankan kepadanya. Dan tidak ada penerus yang lebih ideal selain manusia yang memang dibesarkan sendiri oleh dakwah orang tuanya. Maka Ibrahim senantiasa bermunajat untuk hal ini.

Namun setelah Allah mengabulkan doanya dan memberikan seorang anak yang patuh, sholeh dan taat pada Allah dan orang tuanya, Allah kemudian member ujian ketaatan, keimanan dan dan kecintaan. Manakah yang lebih ia cintai, Allah, penciptanya atau Ismail, anak yang telah lama dirindunya?

Bagi kita misi ini seperti mission impossible. Bagaimana mungkin seorang ayah mengorbankan anaknya? Dan memang demikian Ibrahim kala memimpikan hal ini. Harus menunggu hingga tiga kali mengalami mimpi yang sama, baru yakinlah Ibrahim bahwa ini memang perintah Allah.

Dan apa jawaban keimanan Ibrahim? Sami’na wa atho’na. Kami dengar dan kami patuh. Ngeri, takut, sedih, namun memang demikian yang diminta Allah. Mau bagaimana lagi? Ibrahim sudah mengakui bahwa ia adalah hamba Allah dan kepada-Nya lah ia serahkan hidup dan matinya.

Bagaimana dengan dirimu sahabatku?

Allah mensyariatkan agar engkau  mengorbankan sebagian hartamu. Tidak semuanya, hanya sebagaiannya saja yang mampu engkau belikan hewan qurban yang terbaik. Setelah disembelih pun engkau masih diperbolehkan untuk memakannya dan menghadiahkannya kepada orang lain.

Kami (penulis) sendiri malu mengakui bahwa di dalam hati terkadang masih ada rasa enggan untuk melaksanakannya. Harta yang tidak seberapa yang dijadikan bukti keimanan kepada-Nya kadang rasanya berat untuk memberikannya.

Ya Allah ampunilah kami bila kami terkadang terlalu mencintai dunia ini. Didiklah kami Ya Allah agar mampu berkata sami’na wa atho’na atas semua perintah dan laranganmu. Kami bersungguh-sungguh bersaksi bahwa Engkaulah satu-satunya Ilah, tiada ilah yang lain. Berilah kami pertolongan agar Engkau menjadi bagian terbesar cinta kami dalam dunia ini.

Ya Allah Ya Tuhan Kami sesungguhnya kami beriman kepadaMu, maka ampunilah dosa kami dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka. Aamiin

Sumber gambar : http://www.flickr.com

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s