“Saya Ketika Itu Merasa Kecil Di Hadapan Allah, Sungguh Nikmat Betul Shalat Berjamaah Di Masjid”

“Maaf Pak, bagaimana panjenengan bisa masuk Islam, apa yang mengubah pandangan panjenengan?” Tanyaku kepada beliau.

Beliau adalah seorang teman muallaf. Sebut saja Fulan. Ia dulunya adalah penganut agama Kristen. Dalam perjalanan menuju Bali, aku dan beliau berbincang panjang dan lebar hingga sampai pada pertanyaan kenapa beliau masuk Islam.

“Sebetulnya ini bukan karena sebuah kejadian besar Mas. Tapi lebih pada proses yang panjang. Saya sendiri sebelum masuk Islam sering berdiskusi dengan teman-teman saya yang studi di IAIN. Bukan masalah-masalah Aqidah, karena kami sepakat untuk tidak mendiskusikan masalah yang berhubungan dengan keyakinan.”

Tapi memang ada satu peristiwa yang memunculkan banyak perenungan mendalam saya. Ketika itu saya berada di depan Rumah Sakit Internasional Surabaya. Saya ketika itu bertemu dengan seseorang yang bernama Mas Faqih kalau tidak salah. Kami berdiskusi tentang banyak hal.

Ia mengira bahwa saya adalah seorang Muslim, karena saya meletakkan tasbih di gantungan kaca depan mobil yang saya parkir. Waktu itu saya tidak tahu, saya begitu takjub dengan yang namanya tasbih.

Tidak berapa lama, rombongan orang keluar dari gereja, hari itu adalah Ahad. Mas Faqih berkata, Ini yang saya suka, memang seharusnya seperti inilah orang yang menghadap Tuhan. Ini yang saya suka dari orang Kristen. Mereka ketika menghadap Tuhannya mereka berpakaian yang terbaik, memakai wewangian, wanginya bahkan tercium hingga ke sini.

Saya yang waktu itu masih beragama Kristen senang dengan ucapan Mas Faqih. Wah ternyata agama saya adalah agama yang memiliki kebaikan.

Namun, sayang, mereka mengubah aturan tuhan mereka sendiri. Lanjut Mas Faqih.

Saya ketika itu langsung kaget, setelah mendapat pujian, saya seperti dijatuhkan dari tebing yang tinggi.

Saya tidak terima lantas saya bertanya, kok sampean bisa ngomong begitu Mas Faqih. Apa alasannya?

Orang-orang kristen itu sebenarnya ketika meninggal, ia harus dikuburkan dengan dikafani sebagaimana muslim. Tapi nyatanya mereka mengubahnya.

Masa sih, pikir saya dalam hati. Nanti bila sampai di rumah, saya akan mengecek bible saya. Saya kok jadi tidak yakin.

Yang terjadi maka terjadilah. Memang benar apa yang dikatakan oleh Mas Faqih. Dalam kitab suci kami, memang orang yang meninggal harus dikafani. Lalu siapa yang mengganti kafan itu menjadi diberikan pakaian lengkap. Aturan siapa itu? Siapa yang berani telah mengganti aturan tuhan?

Tidak berhenti di situ. Esoknya kami masih bertemu. Mas Faqih ternyata membawa sebuah injil terbitan tahun 1960-an. Saya tidak pasti tahunnya, mungkin 1964.

Ini Mas, saya tunjukkan lagi. Di injil yang saya pegang ini dikatakan bahwa babi itu haram. Tapi sekarang coba lihat lagi injil yang sekarang. Sudah berubah, yang haram itu adalah babi hutan. Antara babi dan babi hutan itu khan jelas-jelas berbeda. Sebagaimana orang dan orang hutan, secara fisik dan kenyataannya pastilah berbeda.

Saat itu saya tambah kaget, dan saya pun makin merenung tentang apa yang saya yakini selama ini. Setelah kejadian diskusi itu, beberapa peristiwa juga mengikuti perjalanan spiritual saya. Hingga saya akhirnya mengambil kesimpulan untuk masuk Islam. Saya bersyahadat di masjid Al-Falah Surabaya.

Subhaanallah.

Sujud itu nikmat

Suatu hari di hari Jumat, saya memberanikan diri untuk masuk ke dalam masjid. Saat itu adalah waktu sholat Jumat. Setelah khutbah, saya mengikuti imam untuk shalat berjamaah di masjid.

Ketika saya bertakbir, entah kenapa saya kemudian menangis tersedu-sedu ketika mengikuti imam. Apalagi ketika sujud, saya merasa diri ini kecil, Ya Allah beginikah nikmatnya untuk bersujud di hadapan-Mu? Sungguh nikmat sekali rasanya. Selama shalat dua rokaat itu saya menangis terus menerus. Para jamaah di samping kanan dan kiri saya hanya bertanya-tanya, Apa sampean tidak apa-apa Mas?

Setiap saya sholat, seakan-akan ada yang membisikkan kepada saya. Wahai Fulan, aku telah menyelamatkanmu, maka sembahlah Aku. Engkau ini tidak ada apa-apanya. Bila Aku mentakdirkan dirimu mati seketika ini, siapa yang hendak menyelamatkanmu? Maka sebelum itu, bersujudlah kau kepada-Ku?

Aku merasa iri sahabat. Beliau yang masuk Islam baru-baru ini saja bisa menangis tersedu-sedu dalam shalatnya, kenapa aku tidak bisa? Bukankah kita ini semua mendapatkan hidayah karena kemurahan Allah semata? Bila Allah menghendaki kita tidak beriman, niscaya sangat mudah baginya untuk mencabut keimanan tersebut.

Sahabatku, sungguh diri kita menjadi seperti sekarang ini hanyalah semata-mata anugerah Allah swt. Bila Ia berkehendak untuk mencabut semua yang kita miliki, bisakah kita melawannya?

Semoga Allah menjadikan hati kita lembut dan mudah menangis di saat-saat bermunajat kepada-Nya

Sebagaimana dikisahkan kepada penulis tanggal 18 September 2012

Wallahu A’lam

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s