Gangnam Style dan Sebuah Pelajaran tentang Visi

Mau terkenal? Gampang…

Mau terkenal? Gampang. Asalkan mau menjadi pribadi yang mudah, asik dan eksentrik. Itu jugalah yang sekarang melanda Indonesia. Empat hari terakhir aku terheran-heran ada sebuah model joget yang disebut dengan Gangnam Style. Ia berasal dari Korea. Dikenalkan oleh seorang rapper dan gerakannya seperti sedang mengendarai kuda.

Dan tak pelak, begitu muncul di berbagai sosial media, ia menjadi booming dan dikenal banyak orang. Menjadi terkenal, tidak lagi menjadi sesuatu yang sulit dicapai.

Dulu kita mengenal Shinta dan Jojo, kemudian disusul dengan Justin Bieber, dan terakhir adalah Ayu Ting Ting. Semua muncul dengan tiba-tiba, semua yang dimunculkan akhirnya menjadi booming di mana-mana.

Dan akhirnya dari terkenal itulah muncul banyak kesempatan. Mulai dari membuat album, muncul di iklan TV, sampai akhirnya menjadi artis betulan. Jadilah akhirnya seorang bintang muncul dari tidak ada. Semua bermula dari sesuatu yang mudah, asik dan eksentrik.

Namun disadari atau tidak semuanya tidak ada yang bertahan lama. Ada yang berumur lima tahun, dua tahun, bahkan ada yang tidak lebih dari 1 tahun. Begitu muncul dan terkenal, dalam waktu singkat juga tenggelam dan hilang. Ada yang mengenalnya dengan istilah easy come easy go.

Jauh berbeda dengan bintang-bintang lawas yang hingga sekarang lagunya masih diputar. Bahkan namanya pun masih diperbincangkan dan dibanding-bandingkan. Bahkan tidak jarang yang meninggal pun tambah laris albumnya.

Kualitas apa yang membedakan antara bintang yang berumur jagung dengan bintang yang tak mengenal masa dan selalu dikenang?

Jawabannya adalah kekuatan visi yang mulia. Seseorang, organisasi atau perusahaan yang memiliki visi yang mulia tidak sama dengan yang aji mumpung.

Seorang Abraham Lincoln tidak bercanda dengan usahanya untuk maju sebagai presiden. Ia tahu dan yakin bahwa dirinya adalah seseorang yang dibutuhkan oleh negaranya. Ia harus menjadi presiden untuk menyatukan Amerika.

Alfa Edison tidak aji mumpung ketika ia membangun laboratorium inovasinya. Ia tidak berpikir hanya bagaimana mendatangkan kekayaan. Ada visi yang lebih jauh sehingga ia berani mengorbankan waktu dan umurnya.

Apalagi Nabi kita Muhammad saw. Ia tidak pernah bergurau bahwa ia adalah Nabi terakhir dan pemberi peringatan dan kabar gembira kepada umat manusia. Visi mulianya adalah mengajarkan akhlak mulia kepada manusia agar menghamba kepada Allah Sang Pencipta.

Semuanya hingga sekarang masih ada di ingatan kita. Tidak ada satupun yang terlupakan. Mereka adalah manusia yang penuh dengan visi mulia. Meski usianya telah tutup, tapi warisannya tetap ada dan terjaga.

Maka apa visimu sahabatku?

Wallahu A’lam bish Showab

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s