Ketika Anak-Anak Tertidur di Tengah Pidato Pak Presiden

Gambar diambil dari http://www.vivanews.co.id

Melihat berita Pak Presiden kita membangunkan anak-anak yang tertidur mengingatkan penulis tentang  sebuah fragmen diskusi dalam sebuah buku. Bukunya berjudul Master Your Mind Master Your Destiny karangan Adam Khoo seorang pengusaha asal Singapura yang masih muda usianya.

Suatu ketika Adam Khoo bertemu dengan salah seorang manajer yang mengeluhkan bawahannya. “Apakah ada yang bisa saya bantu?” Kalimat pembuka dari Adam Khoo. “Begini, di kantor, bawahan saya sangat tidak produktif. Mereka susah diatur, diminta bekerja, banyak protes, malas, tapi minta gaji besar”. Keluh sang manajer.

“Lalu bagaimana yang anda inginkan? Karyawan seperti apa yang anda harapkan?” Tanya Adam Khoo

“Ya, yang kerjanya bersemangat, rajin, berdedikasi, meski gajinya tidak terlalu besar. Orangnya juga serba bisa, begini bisa, begitu bisa, multi tasking gitu lah!” Jawab si Manajer.

Adam Khoo terdiam sebentar, kemudian dia berkata, “Pak, bila memang ada karyawan seperti yang Bapak sampaikan, dia rajin, jujur, bersemangat dalam bekerja, tidak malas-malasan, bisa ditugaskan di banyak hal dan bagian, dia juga tidak terlalu cerewet masalah gaji. Bila orang tersebut memang ada kira-kira mau tidak ia bekerja di bawah anda?”

“Glodhakk”

Si Manajer hanya terdiam, dia tidak bisa menjawab apapun. Karena pertanyaan Adam Khoo yang terakhir memang menunjukkan betapa tidak sempurna dirinya. Bagaimana mungkin seorang karyawan yang begitu besar kemampuan dan kepatuhannya bersedia untuk bekerja di bawah seseorang yang mudah mengeluh, tidak sabar dengan kondisi yang ada dan mudah menyalahkan orang lain. Ketika ada sesuatu yang tidak beres, dia menyalahkan anak buahnya.

Sebuah ungkapan dalam buku tersebut, “Bukan anak yang nakal, tapi orang tua yang tidak tahu bagaimana mendidik anak. Bukan murid yang bodoh, tapi gurunya yang tidak kreatif dalam mengajar. Bukan anak buah yang tidak becus, tapi pimpinan yang terkadang berharap terlalu besar”

Di kasus anak yang tertidur ketika Pak Presiden berpidato kita juga harus bertanya kepada diri kita sendiri. Sudahkah kita menjadi orang tua yang menyenangkan bagi anak-anak kita? Sudahkah kita menjadi suami yang perhatian dengan istri kita? Sudahkah kita menjadi istri yang memahami suami kita? Sudahkah kita menjadi anak yang mampu mendengar keluh kesah orang tua kita?

Ketika kita ingin disayang oleh istri, kita tidak bisa memintanya kepada istri, tapi dengan memberikan perhatian kepadanya, secara tidak langsung ia juga akan menyayangi kita. Bila kita ingin dituruti oleh anak-anak kita kita tidak bisa melakukannya dengan berteriak dan meminta mereka diam, tapi kita harus menjadi pribadi yang membuat mereka terpesona. Itulah pelajaran untuk merubah lingkungan. Yakni dengan merubah diri kita terlebih dahulu.

Wallahu A’lam Bish Showab

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s