Berhati-hatilah Wahai Para Pemberi Infaq!

Jangan sembarangan menyebut-nyebut infaq yang telah diberikan! BERBAHAYA!

Sungguh Allah benar-benar memberikan kesulitan sebuah ibadah sesuai dengan keunggulan balasan ibadah. Ketika seseorang datang kepada Nabi SAW untuk menginfaqkan seekor unta dengan pelana tunggangannya, Rasulullah mengatakan bahwa ia akan mendapatkan tujuh ratus unta juga dengan pelana tunggangannya di akhirat kelak.

Secara hitung-hitungan bila kita berinfaq seribu, maka kita akan mendapatkan balasan 700.000. Dan bila kita berinfaq satu juta, kita akan mendapatkan balasan sebesar 700 juta. Namun dengan syarat bahwa kita tidak mengikuti pemberian infaq tersebut dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti penerimanya. Sebagaimana tulisan sebelumnya tentang ayat Al Baqarah 262.

Mengapa Harus Berhati-hati?

Di ayat selanjutnya Allah kemudian menjelaskan tentang infaq yang diikuti dengan menyakiti penerimanya.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.

Qoulun Ma’ruuf atau perkataan yang baik adalah berkata yang menyenangkan, atau dalam tafsir Thobari adalah menampilkan wajah yang penuh senyuman ketika bertemu dengan sesama muslim. Atau bisa juga Qoulun Ma’ruuf diartikan sebagai mendoakan saudara sesama muslim. Sedangkan maghfiratun diartikan sebagai memberikan maaf atas tingkah laku atau perangai saudara kita sesama muslim terhadap kita.

Kedua-duanya dalam pandangan Allah memiliki kebaikan yang lebih tinggi dari pada memberikan infaq atau shadaqah namun diikuti dengan sesuatu yang menyakiti penerimanya. Bila dilihat di tafsir Ibnu Katsir, menyakiti penerima shadaqah atau infaq ternyata tidak hanya menghilangkan pahala tapi ada yang lebih berbahaya.

Berdasarkan sebuah hadits shahih Imam Muslim, Dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa orang yang mengikuti infaq atau shadaqah dengan sesuatu yang menyakiti penerimanya tidak akan diajak bicara oleh Allah di Hari Kiamat, tidak juga dilihat oleh-Nya, tidak juga disucikan, dan akan mendapatkan adzab yang pedih. Sungguh sesuatu yang berat dan besar dalam pandangan Allah.  (Na’udzubillah min dzalik)

Dan memang begitulah Allah memberikan balasan sesuai dengan tingkat kesulitan sebuah amal ibadah yang dilakukan hamba-Nya. Bila infaq bisa menimbulkan downline balasan kebaikan bila dilakukan dengan sempurna, sebaliknya bila diikuti dengan menyakiti perasaan penerimanya akan mendapatkan balasan yang pedih. Kita yang di dunia mengira bahwa telah berbuat amal kebaikan, menyumbang banyak dana kebutuhan ummat, bersedekah, berzakat dan lain sebagainya tidak hanya kosong balasan malah minus. Bukan hanya minus, kita yang berharap untuk bertemu Allah di akhirat kelak ternyata tak digubris-Nya. (Na’udzubillah min dzalik)

Apakah Sebaiknya Kita Tidak Usah Berinfaq Saja?

Pertanyaan itu akan muncul bila kita membaca penjelasan di atas. Dan memang logis bila kita kemudian menahan berinfaq, dari pada tidak mendapatkan balasan malahan mendapatkan siksa, ya lebih baik tidak berinfaq saja?

Itu malah jelas lebih berbahaya, bila kita memiliki kelebihan harta dan tidak menginfaqkannya, bila nanti di hari akhir kita ditanya oleh Allah, mengapa kita memiliki kelebihan harta dan tidak menginfakkannya apa jawaban kita? (Na’udzubillah min dzalik)

Solusinya adalah dengan banyak beristighfar, memohon ampun kepada Allah, bila kita telah berinfaq dan terbersit dalam hati untuk mengikutinya dengan menyakiti penerimanya. Segaralah bertaubat dan meminta maaf kepada sang penerima.

Mencoba untuk ikhlas memang bukan hal yang mudah. Keimanan, keyakinan akan balasan Allah di hari akhirat saja yang bisa membantu kita untuk tidak mengungkit-ungkit kebaikan, infaq dan shadaqah yang telah kita berikan.

Pelajaran dari masalah infaq ini adalah agar kita tidak merasa sombong dengan apa yang telah kita berikan. Bisa jadi apa yang kita berikan selama ini ternyata besar dalam pandangan kita tapi kecil bahkan buruk dalam pandangan Allah.

Senantiasalah untuk bertaubat, beristighfar, sehingga bila memang kita melakukan kesalahan sesungguhnya ampunan Allah itu lebih besar dari kesalahan dan maksiat yang kita lakukan.

Memberi infaq memiliki ujiannya, tidak memberi infaq malah lebih jelas ujiannya yakni nanti di Yaumil Hisab, di hadapan Allah kita akan ditanya tentang harta kita. Bila sama-sama memiliki ujiannya, kenapa harus takut memberi infaq? Ikutilah pemberian infaq kita dengan istighfar, memohon ampun kepada Allah semoga Allah memberikan hati yang ikhlas, hanya mengharapkan balasan dari Allah semata.

Wallahu A’lam

Ingin niat ikhlas infaq terjaga (Insya Allah)? salurkan zakat, infaq dan sedekah anda ke PKPU Surabaya dengan rekening

BCA (513.005.6026)

Mandiri (140.000.122.0291)

BNI (004.230.2139)

Bank Muamalat (701.003.9015)

BSM (008.004.0000)

2 responses to “Berhati-hatilah Wahai Para Pemberi Infaq!

    • Alhamdulillah, semua pujian hanyalah milik Allah. semoga bisa lebih bermanfaat. Insya Allah masih akan ada tulisan terkait infaq dan sedekah. semoga diberi Allah kekuatan.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s