Hasil Laporan Human Rights Watch Bag. 2 (Selesai); Sejarah dan Kesimpulan

Pengungsi Rohingya terkatung-katung di lautan

Sebagaimana kita ketahui selama ini bahwa sebagian besar penduduk dari berbagai etnis yang tinggal di Myanmar tidak mengenal etnis Rohingya. Mereka mengenalnya sebagai “Bengali” atau bahkan disebut sebagai “Kalar” yang berarti migran ilegal dari Bangladesh.

Sejarah Rohingya

Berdasarkan sejarah, bahwa penduduk muslim telah tinggal di bagian barat Myanmar selama berabad-abad. Kata Rohingya sendiri dikenalkan oleh seorang berkebangsaan Inggris Francis Buchanan, M. D. yang menulis sebuah dialek di sebuah bagian barat Myanmar dengan sebutan “Rooinga” atau penduduk asli Arakan.

Awal mulanya, Arakan termasuk bagian dari India di bagian utara. Beberapa sumber mengatakan bahwa daerah Arakan sebagian besar dihuni oleh orang India sampai muncul perang di abad ke 10 di mana suku Tibeto-Burman masuk ke sana. Hal ini memunculkan adaya pendatang yang bercampur dengan penduduk asli, dan di masa inilah terbentuk kerajaan Arakan.

Di tahun 1404, sebuah kerajaan Ava dari daerah Utara Myanmar menyerang kerajaan Arakan, Raja Arakan Naramithla mengungsi ke Bengal, di mana dia hidup di pengasingan sampai tahun 1430, dia kembali ke Arakan untuk membentuk ibukota Arakan, Mrauk-U. Selama di pengasingan, sang Raja berkenalan dengan Islam di kota Guar, Bengali dan pengaruh Islam tersebut terlihat ketika kembali ke Arakan. Dia mendirikan sebuah pengadilan yang mencampur antara budaya Budha dan Islam. Di abad 15, Raja Arakan menggunakan uang koin dengan tulisan Islam digabung dengan uang koin dari Bengal. Di masa itu, Bahasa Persia digunakan untuk urusan diplomasi pada abad 17 dan 18. Ketika terjadi perang Mughal-Arakan di bagian timur Bengal menyebabkan naiknya jumlah perdagangan budak.

Masa penjajajahan Inggris mengubah pergerakan hubungan antara agama dan etnis dalam sebuah negara. Perang Anglo-Burma pertama dari 1824-1826 membuat Arakan dikuasai oleh penjajah Inggris sampai Myanmar merdeka di tahun 1948. Pada masa penjajahan inilah Inggris memindahkan ibukota dari Mrauk-U ke lokasi yang sekarang dikenal sebagai Sittwe, dan karena tidak ada perbatasan politis antara Arakan dan Bengal, hal ini membuat tingginya perpindahan populasi dari Chittagong atau Bengal Timur ke Arakan. Populasi Muslim di Arakan naik dengan signifikan dari 58.000 pada tahun 1871 menjadi 179.000 di tahun 1911 menurut catatan penjajah Inggris. Informasi inilah yang sering digunakan sebagai argumen bahwa etnis Rohingya itu sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah munculnya perpindahan penduduk dari Bengal ke Arakan. Dan pendapat inilah yang banyak diterima oleh berbagai kalangan di Myanmar. Meski Rohingya dan Bengal secara fisik memiliki banyak kesamaan, Rohingya di Myanmar berbicara bahasa Bengali dengan logat yang berbeda dari semua orang Bengal di semua perbatasan, dan banyak Rohingya yang ada di Myanmar juga bisa berbahasa bahasa Myanmar.

Setelah Myanmar merdeka di tahun 1948, negara tersebut mengalami instabilitas politik kesukuan sampai ada kudeta militer di tahun 1962 dan bertahan selama 60 tahun. Selama masa itu bahkan hingga sekarang, tentara Myanmar ditengarai telah banyak melakukan pelanggaran terhadap kedua etnis Arakan dan Rohingya, termasuk pembunuhan, perbudakan, pemerkosaan, penyiksaan, perebutan lahan dan banyak kekerasan lainnya.

 Meski keduanya mengalami penindasan, namun yang dialami oleh etnis Rohingya menjadi berkali lipat karena tidak diakui sebagai warga negara Myanmar. Di tahun 1977, pemerintah menjalankan program Naga Min untuk memeriksa tiap individual di Myanmar, hal ini bertujuan untuk menghindarkan Myanmar dari masuknya warga negara asing dengan ilegal. Meski terjadi di seluruh wilayah, di Arakan, hal tersebut memicu pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap Rohingya oleh tentara dan penduduk serta pemerintah lokal Arakan. Tercatat terjadi pembunuhan, penahanan secara massal, penyiksaan dan pelanggaran lainnya, membuat 200.000 orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Di tahun 1983, dilakukan sensus oleh pemerintah Myanmar, namun Rohingya tidak diikutkan.

Di tahun 1991, tentara Myanmar mengulangi kekerasan terhada Rohingya, membuat lebih dari 250.000 keluar dari Arakan dan masuk ke Bangladesh.

Kekerasan ini tetap berlanjut di tahun-tahun berikutnya hingga meletus dan tercium oleh media di tahun 2012.

Kesimpulan

Undang-undang sebuah negara adalah hasil politik dalam negara tersebut, dibutuhkan tekanan untuk merubah undang-undang tersebut agar Rohingya diakui sebagai warga negara Myanmar. Ini adalah solusi jangka panjang. Untuk solusi jangka pendek, penanganan pengungsi tetap menjadi perhatian utama saat ini. Semoga semakin banyak pihak yang menyadari tentang Rohingya dan bersedia membantu saudara kita Rohingya.

Wallahu A’lam

Untuk membantu saudara Rohingya, tim PKPU telah mengirimkan relawan. Kami juga menghimpun dana bagi keberlangsungan hidup mereka. Bila anda berkenan untuk membantu mereka dengan dana, bisa melalui rekening kemanusiaan PKPU Surabaya

BCA (Rek. Kemanusiaan) 513.005.6018

(harap konfirmasi dengan sms setelah transfer ke nomor berikut: 081 334 393 367)

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s