Hasil Laporan Human Rights Watch Bag.I

Berikut ini adalah hasil kesimpulan secara umum menurut kami (penulis) tentang aksi kekerasan yang telah terjadi di Rohingya pada Juni-Juli 2012. Kesimpulan ini kami berikan setelah membaca laporan resmi dari Human Rights Watch sebagaimana yang telah kami sampaikan sebelumnya. Bagi siapapun yang membaca tulisan ini dan keberatan dengan kesimpulan yang kami berikan, kami sangat menghormati pendapat masing-masing. Bila ada yang ingin memberikan klarifikasi bila kesimpulan ini keliru atau salah dalam menerjemahkan, koreksinya akan sangat kami hargai.

Cara laporan ini dibuat

Mengumpulkan fakta terkait kejadian di Roghingya sangatlah sulit. Pemerintah ingin mengesankan bahwa tidak terjadi pelanggaran hak asasi apapun di Rohingya. Apalagi tidak ada bukti dalam bentuk video atau keterangan lain yang netral, hal ini menyebabkan tim dari Human Rights Watch melakukan wawancara untuk mendapatkan data. Yang diwawancara untuk kepentingan laporan ini berasal dari 22 orang etnis Arakan yang mayoritas Budha dan 28 orang etnis Rohingya yang mayoritas adalah muslim. Khusus untuk Rohingya, responden yang diwawancarai memang sengaja dipilih mereka yang berada di pengungsian ilegal. Karena yang legal telah dikondisikan oleh pemerintah.

Asal Mula Terjadi Konflik Arakan-Rohingya

8 Mei 2012, dilaporkan telah terjadi pemerkosaan oleh tiga orang muslim terhadap wanita Arakan yang beragama Budha, atas kejadian ini, dari tiga pelaku dua orang dihukum mati sedangkan yang satu meninggal di penjara.

3 Juni 2012, terjadi pembunuhan terhadap 10 orang muslim yang dilakukan oleh orang Arakan dalam jumlah besar. Saat itu sebenarnya polisi dan tentara mengetahuinya namun tidak bertindak apa-apa.

8 Juni 2012, ribuan orang Rohingya mengadakan perlawanan dengan menghancurkan berbagai bangunan dari etnis arakan dan membunuh orang dalam jumlah yang tidak diketahui secara jelas. Saat ini juga sebenarnya diketahui oleh polisi dan petugas keamanan, namun mereka juga tidak berbuat apapun.

Setelah itu kekerasan meluas sehingga terjadi konflik horizontal antara Arakan dan Rohingya. Kesimpulan umum yang didapatkan tim Human Rights Watch adalah bahwa dalam beberapa kejadian kekerasan tidak ada usaha dari pemerintah untuk mencegah kekerasan terjadi.

10 Juni 2012, Presiden Thein Sein, menyatakan kondisi darurat. Saat inilah kekerasan terhadap Rohingya secara besar-besaran terjadi.

12 Juni 2012 Di Sittwe, daerah tempat tinggal etnis Rohingya terbesar dengan 10.000 jiwa diserang oleh etnis Arakan sementara petugas keamanan dan polisi ternyata ikut serta menyerang penduduk etnis Rohingya.

Setelah itu, para pemimpin lokal Arakan menyepakati untuk mengusir para penduduk Rohingya. Sedangkan para biksu lokal sudah menyebarkan perintah agar para biksu Budha lainnya tidak membantu para penduduk Rohingya.

Sangat banyak bentuk kekerasan yang terjadi di Rohingya. Dan kekerasan tersebut ternyata telah terorganisir oleh etnis Arakan. Sementara petugas keamanan atau kepolisian tidak saja diam, mereka seringkali ikut serta dalam melakukan kekerasan terhadap penduduk Rohingya.

 Dalam laporan tersebut, sangat terlihat, bahwa sebenarnya konflik horizontal ini bisa dihindari andai saja sejak awal pemerintah bisa mencegahnya. Penyerangan Rohingya ke etnis Arakan bisa dihindari, dan petugas keamanan dan kepolisian bisa mencegah, namun nyatanya mereka tidak berbuat apa-apa.

Kesimpulan sementara.

Membaca laporan tersebut, kami (penulis) merasa bahwa memang ada sebuah usaha untuk memunculkan konflik tersebut. Dan setelah konflik tersebut tercipta, maka akan ada legitimasi untuk menghapus Rohingya dari Myanmar untuk selama-lamanya. Warga negara di Myanmar secara umum memang tidak menghendaki adanya etnis Rohingya di sana. Oleh sebab itu ketidaksenangan terhadap Rohingya memang sudah sejak lama ada. Munculnya konflik ini akhirnya menjadi bukti bagi Myanmar agar Rohingya tidak lagi ada di Myanmar.

Demikian kesimpulan sementara dari hasil kami membaca, bila ada tambahan dari sahabat PKPU Surabaya, kami haturkan terimakasih yang sebesar-besarnya.

Wallahu A’lam

 

Untuk membantu saudara Rohingya, tim PKPU telah mengirimkan relawan. Kami juga menghimpun dana bagi keberlangsungan hidup mereka. Bila anda berkenan untuk membantu mereka dengan dana, bisa melalui rekening kemanusiaan PKPU Surabaya

BCA (Rek. Kemanusiaan) 513.005.6018

(harap konfirmasi dengan sms setelah transfer ke nomor berikut: 081 334 393 367)

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s