Bangladesh Kewalahan Pengungsi, Apakah Indonesia Siap?

Permasalahan Rohingya bukanlah sebuah masalah yang sederhana. Meskipun beberapa sahabat memberikan pendapat bahwa sebaiknya kita berjihad dengan perang ke Myanmar, namun penulis sendiri masih belum sreg dengan pendapat tersebut.

Masalahnya semakin besar ketika Bangladesh yang merupakan negera tetangga terdekat dari Rakhine, ternyata malah menutup perbatasan (2/8/2012). Mereka akan mengembalikan semua imigran gelap ke negara asalnya di Myanmar.

Ditambah lagi, ternyata mereka melarang NGO asing untuk membantu para pengungsi yang sudah datang. Mereka khawatir akan semakin banyak pengungsi yang masuk ke negaranya.

Belajar dari Bencana Merapi.

Tahun 2010 ketika Merapi meletus, tercatat sebesar 66.500 jiwa mengungsi dari daerah asal. Setelah usai erupsi, persoalan pengungsi ini tidak kunjung selesai. Banyak warga yang hidup di Kawasan Rawan Bencana menolak direlokasi. Daerah yang ditempati untuk relokasi pun kesulitan. Lahan siapa yang akan mereka tempati saat ini. Bagaimana dengan mata pencaharian masyarakat lokal yang telah tinggal di sana.

Hingga 2011, masalah ini juga belum juga diselesaikan dengan tuntas. Masih banyak masalah kejelasan relokasi yang belum menemukan titik terang. Maka, masih banyak dijumpai saat itu para warga yang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian, karena memang belum jelas mereka mau ditempatkan di mana.

Melihat Reaksi Bangladesh harus Proporsional

Di hari Jumat, 3 Agustus saya mencari berita perkembangan tentang Rohingya. Yang muncul adalah berita sebagaimana saya tampilkan di atas yakni mengenai Bangladesh yang menutup masuknya pengungsi dan menyetop bantuan dari NGO asing.

Bermacam-macam sikap orang tentang hal ini. Namun kami sendiri, berdasarkan pengalaman pengungsi Merapi, ini adalah sesuatu yang memang susah untuk dikendalikan dan direncanakan. Ijinkan kami memberikan sedikit gambaran.

Satu orang membutuhkan air minum sebanyak 1 liter. Jadi ketika pengungsi Merapi berjumlah 66.500 orang berarti perhari membutuhkan 66.500 liter. Berapa banyak tenda harus disiapkan? Gelas, galon dan persiapan perlengkapan lainnya seperti apa? Sungguh sebuah persiapan yang tidak sedikit.

Ditambah lagi kebutuhan mereka tidak hanya air, tapi juga makan, tempat tinggal, sanitasi. Bukan masalah dana, tapi lebih pada ketersediaan sumber daya yang tersedia. 800.000 orang itu tidak sedikit, hampir sepertiga penduduk Surabaya. Jadi wajar bila Bangladesh menolak untuk menerima sebelum ada kejelasan terkait para pengungsi ini. Apalagi telah ada hampir 200.000 orang yang telah tinggal di Bangladesh. Akan semakin banyak beban yang harus ditanggung oleh pemerintah Bangladesh.

Solusi Anda Seperti Apa?

Permasalahan yang pelik seperti ini memang akan sulit dicari pemecahannya. Bila sahabat bisa memberikan usulan solusi terkati Rohingya, kami akan sangat senang untuk bisa berbagi karena masalah ini adalah masalah kita bersama sebagai sesama saudara muslim.

Wassalam

 

Untuk membantu saudara Rohingya, tim PKPU telah mengirimkan relawan. Kami juga menghimpun dana bagi keberlangsungan hidup mereka. Bila anda berkenan untuk membantu mereka dengan dana, bisa melalui rekening kemanusiaan PKPU Surabaya

BCA (Rek. Kemanusiaan) 513.005.6018

(harap konfirmasi dengan sms setelah transfer ke nomor berikut: 081 334 393 367)

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s