Teka-Teki Mencari Mustahik

Siapakah yang layak? Teka-teki yang sulit dipecahkan

Jumat, 3 Agustus 2012, sebuah tulisan di Jawa Pos yang bekerja sama dengan Masjid Agung Al Akbar Surabaya mengisahkan sebuah cerita yang menarik. Para pengurus Masjid didatangi seseorang yang meminta bantuan kepada para pengurus. Dia telah di-PHK dan masih memiliki tanggungan seorang istri dan dua orang anak. Sungguh memilukan dan para pengurus pun tergerak untuk membantu.

Namun niatan membantu mereka sirna. Setelah orang tersebut menceritakan hal ihwal hidupnya, dia meminta bantuan yang di luar kewajaran. Dia meminta agar disediakan rumah, dengan perabotannya beserta mobil. “Wah, wah, wah enak tenan”, pikirku ketika membaca kisah tersebut. Masalah memiskinkan diri dan teka-teki bagaimanakah mencari penerima zakat yang sebenarnya menjadi sebuah tema yang menarik.

Bagaimana di PKPU Surabaya?

Mencari mustahik atau orang yang berhak menerima zakat memang tidak susah. Bila hanya berdasarkan di At-Taubah 60, memang sudah ada delapan golongan yang berhak menerima zakat, yakni, fakir, miskin, amil zakat, muallaf, budak, orang yang berhutang, fi sabilillah, dan ibnu sabil.

PKPU Surabaya dalam memberikan pelayanan dan pemberian dana yang diambil dari dana zakat memang menguatamakan untuk fakir dan miskin. Dan sejauh pengalaman kami, yang menjadi penting adalah siapakah yang miskin yang benar-benar miskin dan layak dibantu.

Kartu Gakin tidak lagi Menjadi Kriteria

Kami selaku pengurus di PKPU Surabaya pernah menjumpai bahwa di Surabaya kartu Gakin itu tidak selalu dimiliki oleh orang-orang miskin. Kami menemukan bahwa ada juga orang yang memiliki titel Haji dan bertempat tinggal di rumah yang cukup megah masih memilikinya.

Kami juga pernah melihat dengan mata sendiri ternyata seorang ketua RW bisa memiliki dua kartu Gakin. Oleh karenanya, kami yang awalnya merasa terbantu dengan adanya Gakin, harus berpikir ulang karena kami tidak ingin dana yang telah diberikan oleh donatur menjadi salah sasaran.

Meminta dan tidak meminta.

Dalam Adz-Dzariyat ayat 19 Allah berfirman:

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian

Ketika melihat ayat ini ternyata ada dua istilah yakni Saa’il dan Mahruum. Dan bila diterjemahkan secara sederhana menjadi sebagaimana di atas.

Saa’il ini adalah orang miskin yang memang meminta dan memang dia layak untuk mendapatkan hak dari harta orang yang kaya. Sedangkan mahruum adalah orang yang miskin namun dia menahan diri dari meminta-minta dan tidak menunjukkan kepada siapapun tentang kebutuhan dan kekurangannya.

Sungguh kami, di PKPU Surabaya berazam untuk membantu orang miskin yang masuk dalam mahruum dan saa’il. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana menemukan mereka dan bagaimana cara membantu mereka? Menemukan mereka sudah menjadi kesulitan tersendiri, apalagi membantu mereka. Mereka terlihat sebagai orang yang tidak membutuhkan bantuan dan mereka menjaga harga diri mereka karenanya.

Solusi Sementara Kami

Solusi ini masih menjadi solusi kami sementara ini, karena kami masih belum memiliki cara yang lebih efektif dalam mendayagunakan dana yang telah kami terima, cara tersebut adalah:

  1. Kami senantiasa meminta data dari tokoh masyarakat, terutama yang informal. Karena Pak RT dan Pak RW terkadang juga ikut bermain peran menjadi orang miskin sebagaimana kisah kami di atas.
  2. Kami selalu berusaha untuk survey secara langsung untuk melihat apakah rekomendasi yang dikeluarkan oleh para tokoh masyarakat memang benar adanya.
  3. Mengurangi bantuan simbolis. Laporan memang bagi sebuah lembaga adalah keharusan, namun bila memungkinkan kami akan menguranginya terutama bagi mereka yang termasuk golongan mahruum dan terkadang kami mempersilahkan kepada tokoh masyarakat tersebut yang memberikannya dengan tujuan agar menjaga harga dirinya.
  4. Bentuk bantuan kami usahakan tidak dalam bentuk uang. Memang untuk memudahkan pemberian bantuan, bentuk uang menjadi pilihan yang cepat dan mudah. Namun kami juga melihat ada sisi negatif lain yang terkadang pembelanjaanya tidak sesuai dengan kebutuhan.

Kami tetap mencari solusi-solusi lain dan mencoba untuk menemukan cara lain yang jauh lebih efektif untuk membantu baik yang saa’il atau yang mahruum. Bila anda memiliki konsep atau teori tentang cara ini, kami di PKPU Surabaya akan sangat senang untuk sharing di sini.

Wallahu A’lam

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s