Puasa (bag. 5), Lain-lain tentang Puasa

Yuk Berpuasa! (flickr.com)

MENGQADHA PUASA

      Haruskah mengqadha puasa Ramadhan itu dengan berturut-turut? Pendapat yang paling kuat membolehkan tidak berturut-turut. Dengan dalil firman Allah SWT :

Maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari-hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain (QS . Al-Baqarah : 184)

      Adapun orang yang meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa maka walinya yang menqadha puasa. Hadits Rasulullah SAW :

Barang siapa meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa maka walinya yang berpuasa untuknya.

 

PUASA BAGI ORANG MUSAFIR

      Berbuka bagi orang musafir/bepergian merupakan rukhsah/keringanan yang diberikan Allah SWT. Allah SWT berfirman : Barang siapa yang sakit atau bepergian, maka dihitung (puasanya) pada hari yang lain. (QS. Al Baqarah: 185)

      Mana yang lebih utama berbuka atau puasa bagi mereka? Imam Syafi’i, Malik, dan Abu Hanifah menyatakan bahwa puasa adalah lebih baik apabila mereka mampu (tidak dirasa memberatkan) mereka berhujjah dengan firman Allah SWT : “Dan puasa lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui”. (QS Al Baqarah : 184).

      Akan tetapi jika mereka tidak mampu maka berbuka adalah lebih baik baginya. Allah SWT berfirman : “Allah SWT menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqarah : 185).

      Adapun jarak safar yang diperbolehkan untuk berbuka, Imam Syafi’i, Ahmad dan Imam Malik berpendapat bahwa batas paling dekat dimana seorang musafir diperbolehkan berbuka adalah 48 mil atau 84 km.

MENCIUM ISTRI SAAT PUASA

      Mencium istri disaat berpuasa boleh bagi orang yang mampu mengendalikan nafsunya. Riwayat dari Aistah ra : Rasulullah SAW mencium padahal beliau berpuasa, beliau menyentuh padahal berpuasa, akan tetapi Rasulullah SAW orang yang paling bisa menendalikan nafsunya” (HR. Bukhari-Muslim).

 

HUBUNGAN SUAMI ISTRI DI SIANG HARI SAAT BULAN RAMADHAN

      Barang siapa yang melakukan hubungan suami istri di siang hari pada bulan Ramadhan, maka puasanya batal dan ia wajib membayar denda dengan urutan sebagai berikut : memerdekakan budak, apabila tidak mampu maka wajib berpuasa dua bulan berturut-turut. Dan apabila tidak mampu, ia wajib memberi makan 60 orang miskin. Sebagaimana hadits Abu Hurairah ra yang artinya : “Ketika kami duduk disamping Nabi Muhammad SAW datanglah seorang lelaki seraya berkata : Wahai Rasulullah saya telah binasa! Nabi bersabda : “Apa yang membinasakan  mu? Ia menjawab, saya telah menggauli isteri saya padahal saya dalam keadaan berpuasa”.

      Nabi bersabda : Apakah kamu mampu memerdekakan budak? Ia menjawab : tidak! Nabi berkata : Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan beerturut-turut? Ia menjawab : tidak! Nabi berkata : Apakah kamu mampu memberi makan 60 orang miskin? Ia menjawab : tidak! Lalu ia duduk. Kemudian datanglah satu orang yang membawa wadah berisi kurma untuk Nabi : Maka Nabi bersabda,shadaqahkanlah ini. Ia menjawab: Apakah kepada orang yang lebih miskin dari saya? Karena tidak ada dua batu hitamnya rumah ini yang butuh dari saya. Maka Nabi kemudian tertawa dan berkata pergilah dan berikan kepada keluargamu”. (HR. Bukhari-Muslim)

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s