Puasa (bag.2), Keringanan-Keringanan dalam Puasa

Yang dibolehkan (flickr.com)

a. Makan dan minum karena lupa

RasulullahSAW bersabda :

Barang siapa lupa sedang ia dalam keadaan puasa maka ia makan atau minum, hendaklah ia menyempurnakan puasanya, sebab Allah SWT telah memberi kepadanya makan dan minum. (HR. Bukhari-Muslim)

 b. Orang hamil dan menyusui

Orang hamil dan menyusui jika mereka mengkhawatirkan anak yang dikandungnya atau diri mereka, maka mereka boleh berbuka, sebab hukum mereka sebagaimana hukum orang sakit. Hadits Rasulullah SAW : Allah SWT melepaskan untuk orang musafir berpuasa dan separuh dari shalatnya dan untuk orang hamil dan menyusui dari puasa. (HR. Al-Khamsah).

 Masalah yang diperselisihkan adalah tentang qadha dan membayar fidyah.

  1. Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat, jika yang ia khawatirkan adalah anaknya saja maka wajib baginya qadha dan membayar fidyah. Jika yang ia khawatirkan adalah dirinya atau diri dan anaknya, maka cukup baginya mengqadha puasa.
  2. Imam Abu Hanifah berpendapat, yang wajib bagi mereka hanyalah qadha saja.
  3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, mereka berpendapat bahwa jika yang dikhawatirkan adalah diri dan anak mereka maka mereka cukup membayar fidyah saja. (HR. Abu Dawud, Daruquthi, Malik dan Baihaki)

 c.  Haid dan Nifas

Wanita yang sedang haid atau nifas, wajib bagi mereka berbuka kemudian mengqadhanya dihari lain, walau haid itu datangnya menjelang waktu maghrib. Diriwayatkan dari Aisyah ra beliau berkata :

Kami mengalami haid di zaman Rasulullah SAW, kemudian kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.

 d. Orang Sakit

Sakit apakah yang dibolehkan berbuka? Jumhur Ulama mengatakan : sakit yang membahayakan jiwa atau menambah cidera atau dikhawatirkan memperlambat kesembuhan. Alasan mereka adalah firman Allah SWT : Allah SWT menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesusahan bagimu. (QS : Al-Baqarah : 184).

 Ayat di atas menunjukkan bahwa adanya keringanan ini untuk menghilangkan sesuatu yang memberatkan atau membahayakan. Jadi kalau tidak ada yang membahyakan atau memberatkan maka tidak ada keringanan.

 e.  Lanjut Usia

Bagi orang yang berusia lanjut dan tidak mampu berpuasa, maka cukup baginya untuk memberi makan setiap hari satu orang miskin, berdasarkan pandangan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas dalam memahami ayat : dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, maka ia membayar fidyahnya yaitu memberi makan satu orang miskin. (QS : Al-BAqarah : 184)

2 responses to “Puasa (bag.2), Keringanan-Keringanan dalam Puasa

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s