Belajar dari Keluarga Ibrahim

Sahabatku, suatu ketika Ibrahim, Hajar dan Ismail kecil pergi ke sebuah tempat. Tempat itu panas, gersang, dan tidak terlihat seorang pun di sana. Setelah mereka sampai di tempat tersebut, mereka berteduh di bawah sebuah pohon. Ibrahim kemudian beranjak meninggalkan Hajar dan Ismail. Ia hanya memberikan bekal sekantong kurma dan satu kantong kulit yang berisi air untuk persediaan.

Hajar mengejar, ia bertanya, “Hai Ibrahim Apakah engkau akan meninggalkan kami di daerah yang tidak berpenghuni ini?” tanya Hajar. Tapi Ibrahim tidak menjawab. Hingga Hajar berulangkali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Tapi Ibrahim juga tidak kunjung menjawab.

Lalu akhirnya Hajar pun bertanya, “Apakah ini perintah Allah?”. “Iya” Jawab Ibrahim. “Maka cukuplah bagi kami Allah, Allah tidak akan pernah meninggalkan kami”. Jawab Hajar.

Sampai di suatu tempat, Hajar tidak lagi dapat melihat Ibrahim, Ibrahim berbalik. Ia berdoa kepada Allah,

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (14:37)

Subhanallah. Maha Suci Allah.

Sahabatku, betapa mulia contoh yang diberikan Allah kepada kita melalui keluarga Ibrahim as. Sebuah keluarga yang semuanya menyerahkan diri hanya kepada Allah. Meski dalam kondisi yang dalam pandangan manusia sangat tidak memungkinkan mereka tetap tegar. Dan demikianlah seharusnya keluarga muslim.

Bisa jadi sebuah keluarga muslim belum memiliki kemampuan dalam kekayaan. Namun itu tidak menjadi sebuah permasalahan yang mendesak. Sebagaimana kita lihat dalam kisah di atas. Ketika seorang istri (Hajar) harus ditinggalkan dengan hanya berbekal kurma dan air secukupnya ia merasa cukup. Hal ini karena ia tahu bahwa yang menjamin hidupnya adalah Allah SWT.

Bagaimana dengan kondisi kita sahabatku. Sudahkah kita mencontoh kisah Ibrahim di atas? Sudahkah kita siap dengan ketentuan yang telah diberikan Allah meski ternyata tidak terbayangkan oleh kita. Sudahkah kita menjadi Hajar yang siap membesarkan Ismail di tengah keterbatasan? Sudahkah kita menjadi Ibrahim yang sadar bahwa ketergantungan kepada Allah dalam setiap hal tidak mungkin diwakilkan kepada yang lain.

Sesungguhnya keluarga yang terbaik adalah keluarga yang dihimpun dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Meski dalam kesederhanaan, dalam keterbatasan. Karena hidup ini adalah milik Allah semata. Maka kepada siapa lagi kita pantas menggantungkan segala sesuatu selain kepada-Nya?

Sahabatku, marilah berusaha menjadikan diri kita sebagaimana Ibrahim, istri kita sebagaimana Hajar dan anak kita seperti Ismail. Insya Allah tidak hanya di dunia, di akhirat kita akan kembali bertemu untuk berkumpul di surga Allah dan berbahagia selamanya.

Wallahu A’lam Bish Showab.

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s