Murid yang Berbakat?

Mengajar anak-anak yang berbakat?

Kisah nyata ini kuambil dari buku karangan Adam Khoo, Master Your Mind, Master Your Destiny.

Seorang ibu guru diberitahu oleh kepala sekolahnya, “Ibu, di tahun ajaran depan, anda akan mengajar di kelas yang penuh dengan anak-anak yang memiliki kecerdasan tinggi. Mereka adalah anak-anak yang paling berbakat di daerah ini. Jadi kami harap ibu bersiap-siap untuk mengisi di kelas tersebut?”

“Baik Pak! Saya siap” Jawab si Ibu Guru.

Tahun pelajaran baru pun berjalan. Sang Ibu Guru dengan penuh percaya diri memasuki ruang kelas. Dia mengharapkan kelas yang patuh, diam dan hangat. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Di kelas ini para siswanya berisik. Mereka tidak bisa diam. Semakin melanjutkan pelajaran, semakin ia stres. Di sore hari ia hanya terdiam di kantor.

“Mengapa anak-anak begitu berisik? Kenapa mereka tidak bisa diam? Mengapa mereka nakal dan tidak bisa diatur?” Pikirannya terbang mencari penyebabnya. “Tapi tidak mungkin, mereka adalah anak-anak yang paling berbakat. Bukan kesalahan mereka, mungkin karena cara mengajarku yang masih salah”.

Keesokan harinya, sebelum mengajar, ia bertekad akan belajar kembali tentang caranya mengajar. Sedikit demi sedikit kemampuan mengajarnya meningkat, ia kini menjadi seoran guru yang tahu bagaimana menarik perhatian muridnya. Ia menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.

Hasilnya, kejadian ketidakteraturan di kelas lambat laun sudah mulai berkurang. Semakin si Ibu Guru mengajar dengan cara yang menarik, semakin terkondisikan para siswa.

Di akhir tahun ajaran, setelah ujian dilaksanakan, tidak ada yang spesial dari siswa kelas tersebut. Yang nampak hanyalah peningkatan nilai dari beberapa kali ujian yang dilaksanakan.

Yang tidak diketahui oleh sang Ibu Guru adalah, bahwa sebenarnya para murid bukanlah murid yang berbakat, melainkan sebaliknya, mereka adalah para begundal di sekolah asalnya. Kemampuan akademik mereka juga sangat kurang. Namun dengan sebuah cara pandang yang positif, ternyata ia bisa mengubah kondisi murid-muridnya.

Mungkin berikut adalah kata-kata yang patut kita cermati dan camkan dalam-dalam berkaitan dengan kisah nyata di atas.

Bukan murid yang bebal, tapi guru yang tidak kreatif,

Bukan anak yang nakal, tapi orang tua yang tidak mengerti,

Bukan istri yang tidak cinta, tapi suami yang kurang perhatian,

Wallahu A’lam bish Showab

Silahkan memberi komentar sahabat, tak perlu malu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s